KALIMANTAN BARAT — Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025 lalu menyisakan lumpur setebal 30 sentimeter di lahan pertanian warga. Salah satu yang paling terdampak adalah Abdul Rozzaq Mubaroq. Lahan seluas 1,8 hektar yang menjadi tumpuan hidupnya luluh lantak. Seluruh tanaman dan peralatan pertanian hanyut terbawa arus.
“Awal melihat lahan pertanian ini, saya bingung mau mulai dari mana. Terkadang saya berpikir bagaimana dapat memberi makan anak dan istri,” ujarnya kepada Mattanews.co, Sabtu (13/6/2026).
Bangkit dari Lumpur, Belajar dari YouTube
Rozzaq tidak ingin larut dalam kesedihan. Setiap hari ia mendatangi lahannya yang masih tergenang lumpur. Ia membaca jurnal pertanian dan menonton video YouTube untuk mempelajari cara mengelola lahan pascabanjir.
“Saya kerjakan apa saja yang bisa. Saya terus berpikir rencana menanam kembali,” katanya.
Setelah lumpur mulai mengering, ia menyewa traktor untuk meratakan tanah. Tanah didiamkan dua hingga tiga bulan sebelum ditanami kembali. Rozzaq yakin material lumpur sisa banjir masih bisa dikelola untuk tanaman hortikultura.
Bantuan 10.000 Bibit dari Pertamina
Pertamina EP Rantau Field hadir melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Bantuan yang diberikan meliputi restorasi lahan, sarana produksi pertanian, serta 6.000 bibit cabai dan 500 bibit tomat. Total bantuan untuk Kelompok Tani Tunas Muda mencapai 10.000 bibit tanaman hortikultura.
“Alhamdulillah, dari 1,8 hektar lahan, 21 rante sudah kembali ditanam. Ada 13 rante cabai rawit, lima rante cabai merah, dan tiga rante sayur sawi. Sayur sawi sudah panen,” ujar Rozzaq.
Manager Community Involvement Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan sektor pertanian menjadi prioritas pemulihan pascabencana. “Pertamina hadir untuk mendukung recovery para petani di sekitar wilayah operasi. Besar harapan dukungan ini bermanfaat untuk keberlangsungan hidup para penyintas banjir,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan
Iwan menambahkan, perusahaan berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam pengembangan PPM yang inovatif dan berkelanjutan. Program ini dinilai selaras dengan program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Rozzaq kini bisa bernapas lega. Lahan pertaniannya mulai hijau kembali. Ia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi penyintas banjir lain di Aceh Tamiang untuk bangkit dari keterpurukan.