Pencarian

Kemenlu dan BOSF Panggil 8 Inovator Muda Asia Tenggara, Ide ESG Maritim Siap Dikawal ke Kebijakan

Kamis, 04 Juni 2026 • 21:43:31 WIB
Kemenlu dan BOSF Panggil 8 Inovator Muda Asia Tenggara, Ide ESG Maritim Siap Dikawal ke Kebijakan
Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno membuka final Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026 di Jakarta.

KALIMANTAN BARAT — Rangkaian final Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026 resmi berakhir pada Rabu, 3 Juni 2026, di Sampoerna University. Kompetisi yang digagas Sampoerna University dan Blue Ocean Academy ini menyasar generasi muda dari seluruh Asia Tenggara untuk merumuskan solusi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) bagi ekosistem laut.

Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, yang juga menjabat Distinguished Fellow dalam inisiatif ini, menekankan urgensi aksi nyata di tengah tekanan lingkungan maritim. "Saya percaya bahwa Anda sangat sadar bahwa laut adalah bagian penting dari hidup kita. 70 persen bagian dari bumi dan hampir 70 persen kawasan Asia Tenggara adalah laut," ujarnya dalam sambutan di Aula Kantin Diplomasi, Kemenlu, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

Ketergantungan Tinggi yang Berbanding Lurus dengan Ancaman

Havas mengungkapkan fakta geografis yang menjadi dasar program ini. Dari sebelas negara di Asia Tenggara, hanya Laos yang tidak memiliki wilayah laut. Indonesia sendiri, menurutnya, mencatat 60 persen penduduk tinggal di wilayah pesisir dan sepanjang garis pantai. "Jika kita bicara tentang Indonesia, saya pikir 60 persen masyarakat tinggal di wilayah pesisir dan sepanjang garis pantai," papar mantan Duta Besar RI untuk Jerman tersebut.

Angka itu menunjukkan ketergantungan luar biasa masyarakat pada kesehatan laut. Namun, kekayaan maritim ini menghadapi ancaman serius: sampah plastik, kerusakan terumbu karang, hingga deforestasi mangrove. Melalui platform kompetisi ini, para peserta ditantang menerjemahkan tiga pilar ESG secara konkret. Havas merinci, E (environmental) berarti melindungi lingkungan laut, S (social) untuk kesejahteraan masyarakat pesisir, dan G (governance) untuk tata kelola yang kuat.

Dari Proyek Pelajar Menjadi Kebijakan Strategis

Sora Lokita, Asisten Deputi di Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan sekaligus Senior Associate Fellow BOSF, menegaskan pemerintah dan industri tidak bisa lagi bergerak sendiri. "Kami selalu membutuhkan perspektif baru. Dan itulah kenapa kami melirik ke kalian, para generasi muda," tegas Sora di hadapan para finalis.

Menurut Sora, sektor maritim Asia Tenggara berada di persimpangan krusial. Sektor ini mencakup tata kelola laut, ketahanan pangan, pariwisata, energi, hingga pertumbuhan ekonomi—semuanya dibayangi perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. "Hari ini bukan hanya mengenai memilih pemenang, tetapi juga mengenai merayakan ide, inovasi, dan komitmen orang muda di seluruh Asia Tenggara untuk membangun masa depan kemaritiman yang lebih berkembang," ujarnya.

Dari yang awalnya sekadar proyek pelajar, kata Sora, sangat mungkin ide-ide ini berubah menjadi kebijakan nyata. Program ini menjadi jembatan antargenerasi dengan menggunakan kerangka Blue Ocean Strategy untuk menciptakan ruang pasar baru yang tidak diperebutkan (uncontested market space) di sektor maritim. Para finalis kini menunggu tindak lanjut dari Kemenlu dan BOSF untuk mengawal inovasi mereka hingga tahap implementasi.

Bagikan
Sumber: medcom.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks