Ketua IKAMA Kalbar Sunandar melarang anggota, terutama pemuda, membawa celurit terselip di pinggang saat beraktivitas. Ia menegaskan celurit kini hanya berfungsi sebagai senjata adat dan simbol budaya.
“Mulai hari ini, saya larang kalian membawa celurit yang terselip di pinggang saat berjalan atau bersosialisasi. Kita tidak ingin menciptakan stereotip negatif seolah-olah orang Madura sedang mencari lawan,” ujar Sunandar di hadapan Gubernur dan Wagub Kalbar.
Sebagai simbol komitmen perdamaian, Sunandar menyerahkan celurit adat kepada Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan yang juga tokoh adat Dayak.
Warga Madura Diminta Jadi Pemeran Utama Pembangunan
Wagub Krisantus Kurniawan menyebut jumlah warga Madura di Kalbar mencapai 350.000 hingga 390.000 jiwa. Ia mendorong mereka mengubah paradigma dari pendatang menjadi bagian integral daerah.
“Saya ingatkan kembali, orang Madura yang hidup di Kalbar adalah warga ‘Madura Kalimantan Barat’, bukan sekadar warga pulau Madura. Setiap masyarakat diminta menumbuhkan rasa memiliki yang tinggi terhadap Provinsi Kalimantan Barat,” ujarnya.
Menurut Krisantus, dengan rasa memiliki itu warga Madura tidak lagi menjadi figuran, melainkan pemeran utama dalam memajukan daerah.
Gubernur: Perbedaan Karakter Jadi Kekuatan
Gubernur Ria Norsan menekankan Kalbar dihuni 24 etnis yang harus hidup berdampingan. Ia berkelakar bahwa dirinya yang tidak kalem justru cocok berpasangan dengan Wagub Krisantus yang tegas.
“Kalau saya ini pembawaannya tidak begitu kalem, beliau sedikit tegas sehingga kami berdua ini cocok. Kalau ada apa-apa, saya diam, Bapak maju dulu sebagai pengumpan peluru,” kelakar Norsan.
Ia mengajak seluruh elemen menyelesaikan persoalan dengan musyawarah. “Kalau ada masalah besar, mari kita kecilkan. Tapi kalau ada masalah kecil, mari selesaikan dengan musyawarah dan mufakat, duduk bersama,” imbuhnya.
Waspada Hoax di Era Digital
Wagub Krisantus menyoroti perkembangan teknologi informasi. Ia mengingatkan masyarakat memiliki filtrasi dalam menyerap informasi agar terhindar dari berita palsu dan provokasi yang mudah tersebar di dunia digital.
“Saya mengingatkan bahwa pada hakikatnya, seluruh manusia diciptakan oleh Tuhan yang satu dan berasal dari keturunan yang sama,” ujarnya menutup pesan.