KALIMANTAN BARAT — Kunjungan wisatawan Indonesia ke Swiss anjlok 38,7 persen pada Januari–Agustus 2026, dengan hanya 35.124 malam menginap tercatat dibanding 57.255 malam pada periode sama 2025. Duta Besar Swiss Konstantin Obolensky menyebut pelemahan rupiah dan kenaikan biaya transportasi sebagai penyebab utama, dan berharap kondisi ekonomi Indonesia membaik pada 2027 agar pasar kembali bergeliat.
Duta Besar Designate Swiss untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky, menyampaikan hal itu dalam Switzerland Tourism Annual Media Briefing di Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2026). Ia menyoroti posisi Indonesia yang kini berada di urutan kelima pasar wisata Swiss di Asia Tenggara, turun dari biasanya posisi ketiga atau keempat.
Posisi Indonesia Melorot di Pasar Asia Tenggara
Penurunan bukan hanya soal jumlah, tapi juga peringkat. Obolensky membandingkan Indonesia dengan lima negara Asia Tenggara lain dan menyebut posisi kelima sebagai kondisi yang disayangkan.
"Jika dibandingkan dengan lima negara di Asia Tenggara, sayangnya Indonesia saat ini berada di posisi kelima," kata Obolensky.
Data Switzerland Tourism memperlihatkan total kunjungan dari Asia Tenggara juga melemah. Sepanjang Januari–Agustus 2026 tercatat 282.831 malam menginap, turun 21,3 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Rupiah Lemah dan Harga Avtur Jadi Penyebab
Obolensky mengakui perjalanan ke Swiss kini terasa lebih mahal bagi wisatawan Indonesia. Pelemahan rupiah membuat daya beli tergerus, sementara kenaikan harga bahan bakar dan avtur ikut mendorong biaya tiket pesawat.
Faktor visa juga masuk pertimbangan calon wisatawan. Meski begitu, Obolensky menegaskan belum ada rencana pemberian fasilitas bebas visa bagi warga Indonesia.
Menurutnya, biaya pengajuan visa hanya sebagian kecil dari total anggaran berwisata ke Swiss. Ia menilai persoalan utama tetap pada daya beli dan biaya perjalanan secara keseluruhan.
Tanpa Target Angka untuk 2027
Switzerland Tourism memilih tidak memasang target kunjungan khusus untuk 2027. Strategi yang dipegang adalah menginspirasi wisatawan Indonesia agar tertarik datang dan menikmati keindahan negara tersebut.
"Kami tidak menetapkan target. Kami berada di sini untuk menginspirasi wisatawan Indonesia agar pergi ke Swiss dan menikmati keindahan negara kami," kata Obolensky.
Ia tetap berharap ekonomi Indonesia membaik pada 2027. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat yang punya ruang untuk berlibur ke Swiss.
Jejak Pertumbuhan Pascapandemi
Kunjungan wisatawan ke Swiss sempat tumbuh pesat setelah pandemi COVID-19, terutama pada 2023 dan 2024. Swiss menjadi salah satu destinasi Eropa yang lebih awal membuka kembali akses bagi wisatawan.
Kondisi itu berbalik pada 2026. Penurunan 38,7 persen untuk pasar Indonesia menjadi sinyal bahwa faktor biaya masih menjadi penghalang utama, bukan sekadar minat terhadap destinasi.
Bagi traveler Indonesia yang tetap berencana ke Swiss, perhitungan anggaran jadi kunci. Memantau kurs, memesan tiket lebih awal, dan menyiapkan dokumen visa jauh sebelum keberangkatan membantu menekan biaya. Informasi tarif dan persyaratan terkini dapat dikonfirmasi melalui kedutaan atau agen perjalanan resmi.