KALIMANTAN BARAT — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong hilirisasi nikel Indonesia melangkah ke produk akhir berupa baterai kendaraan listrik, bukan berhenti di smelter dan bahan setengah jadi. Arahan itu muncul di tengah temuan bahwa sekitar 50–60 persen kapasitas smelter nikel nasional masih memproduksi produk antara. Pemerintah pun mengkaji pembatasan pembangunan smelter baru yang hanya menghasilkan bahan setengah jadi.
Jakarta — Pemerintah menargetkan rantai pengolahan nikel nasional diperpanjang hingga bahan baku baterai, sel baterai, dan baja nirkarat jadi. Sasaran itu disampaikan Bahlil dalam keterangan tertulis pada Ahad (1/11/2026), dengan penekanan bahwa nilai tambah, lapangan kerja, dan penguasaan teknologi harus benar-benar tertinggal di dalam negeri.
Dorongan tersebut berangkat dari persoalan struktur industri pengolahan yang belum sepenuhnya tersambung. Fasilitas peleburan sudah banyak berdiri, tetapi output-nya mayoritas masih berupa produk antara yang harus diolah lagi sebelum menjadi barang final.
Separuh Kapasitas Smelter Masih Produksi Bahan Setengah Jadi
Dalam naskah kebijakan yang disampaikan, sekitar 50–60 persen kapasitas smelter nikel disebut masih menghasilkan produk antara. Angka itu menunjukkan pengembangan fasilitas pengolahan masih menyisakan pekerjaan besar: menyambungkan hasil smelter dengan industri pembuat produk akhir.
Selama rantai produksi terputus di tengah, manfaat ekonomi dari pengolahan mineral belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri. Nilai tambah terbesar justru berpotensi dinikmati negara lain yang mengolah bahan setengah jadi menjadi baterai atau produk jadi.
Bahlil: Hilirisasi Harus Sampai Produk Akhir
Bahlil menegaskan arah kebijakan hilirisasi tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi. Menurut dia, produk akhir termasuk baterai kendaraan listrik menjadi syarat agar manfaat ekonomi dan teknologi benar-benar berada di Indonesia.
"Hilirisasi kita tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi. Kita harus bergerak sampai menghasilkan produk akhir, termasuk baterai kendaraan listrik, agar nilai tambah, lapangan pekerjaan, dan penguasaan teknologi benar-benar berada di Indonesia," kata Bahlil dalam keterangan tertulis, Ahad (1/11/2026).
Pernyataan itu menempatkan baterai kendaraan listrik sebagai batu uji hilirisasi nikel. Sebab, industri baterai menuntut kemampuan teknologi lebih tinggi dibanding peleburan, sekaligus menyerap tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih spesifik.
Pembatasan Smelter Baru Sedang Dikaji
Pemerintah juga mengkaji pembatasan pembangunan smelter baru yang hanya memproduksi bahan setengah jadi. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mengarahkan investasi ke tahapan pengolahan yang lebih tinggi.
Jika diterapkan, kebijakan itu akan mengubah peta investasi sektor nikel. Investor baru didorong tidak sekadar membangun fasilitas peleburan, tetapi ikut menyiapkan lini pengolahan lanjutan yang menghasilkan produk bernilai tambah lebih besar.
Bagi daerah penghasil nikel, perpanjangan rantai produksi berpotensi menambah lapangan kerja di luar operasi smelter. Serapan tenaga kerja bergeser dari pekerjaan konstruksi dan operasional peleburan ke industri manufaktur yang lebih padat keterampilan.
Arah kebijakan ini mempertegas posisi Indonesia di pasar nikel global. Selama ini Indonesia dikenal sebagai pemasok bijih dan bahan setengah jadi; langkah menuju baterai kendaraan listrik akan menentukan apakah posisi itu naik ke rantai pasok yang lebih menguntungkan.