PONTIANAK — Kabut asap yang menyelimuti langit Kalimantan Barat selama musim karhutla bukan sekadar persoalan kualitas udara. Ketika jarak pandang menurun dan risiko kesehatan meningkat, aktivitas ekonomi masyarakat ikut terhenti. Kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya adalah pekerja informal yang pendapatannya bergantung pada keramaian setiap hari.
Pedagang kaki lima, pengemudi ojek daring, buruh harian, dan pelaku usaha kecil tidak punya pilihan bekerja dari rumah. Ketika warga mengurangi mobilitas, pemasukan mereka langsung tergerus. Penurunan omzet tidak bisa ditutup dengan cadangan keuangan seperti yang mungkin dilakukan usaha besar.
Pedagang Pontianak Kehilangan Hampir Seluruh Pendapatan
Pengalaman Wati, pedagang lapak permainan anak di Pontianak, memberi gambaran konkret dampak tersebut. Dalam kondisi normal, pendapatannya bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp4 juta. Ketika kabut asap menebal dan pengunjung menurun, pendapatannya pernah hanya sekitar Rp200 ribu.
Anak-anak yang datang memakai masker, sebagian tidak betah bermain karena kondisi udara. Wati termasuk pedagang yang tidak bisa mengalihkan usahanya ke dalam ruangan. Lapak permainan anak membutuhkan ruang terbuka dan keramaian, dua hal yang justru menghilang saat asap tebal.
Pontianak Tidak Perlu Punya Titik Api untuk Terdampak
Yang membuat persoalan ini rumit, dampak ekonomi karhutla bisa dirasakan warga yang jauh dari lokasi kebakaran. Pontianak tidak harus memiliki titik api sendiri untuk mengalami kerugian. Asap yang terbawa dari wilayah lain sudah cukup menekan mobilitas dan menurunkan jumlah konsumen.
Bagi pedagang kecil yang mengandalkan pemasukan harian, penurunan dari jutaan rupiah menjadi ratusan ribu rupiah langsung memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada kompensasi atau jaring pengaman yang otomatis tersedia untuk kelompok ini.
Jam Kerja Hilang, Pendapatan Ikut Hilang
Persoalan bergeser menjadi hilangnya waktu produktif. Pekerja formal mungkin masih bisa menutupnya dengan cuti atau kebijakan perusahaan. Bagi pekerja informal, satu hari tidak bekerja berarti satu hari tanpa pendapatan.
Buruh harian, pedagang pasar, dan pengemudi ojek daring menghadapi situasi paling sulit. Sebagian pekerja juga harus berhenti sementara karena gangguan kesehatan akibat menghirup udara berasap.
Orang tua menghadapi beban tambahan ketika kegiatan belajar anak disesuaikan dengan kondisi kabut asap. Pembelajaran dari rumah melindungi anak, tetapi bagi orang tua yang tetap harus bekerja, kondisi itu menambah kebutuhan mendampingi anak dan mengatur ulang waktu kerja.
17 Penerbangan Lion Air Group Dibatalkan di Supadio
Gangguan serius juga terjadi pada sektor transportasi. Jarak pandang yang terbatas menghambat mobilitas udara dan darat. Pada 3 September 2026, sebanyak 17 penerbangan Lion Air Group di Bandara Internasional Supadio dibatalkan akibat kondisi jarak pandang yang membahayakan.
Pembatalan penerbangan bukan hanya soal penumpang yang harus menunda perjalanan. Dampaknya menjalar ke hotel yang kehilangan tamu, restoran yang kehilangan pelanggan, dan kendaraan transportasi yang kehilangan penumpang. Kegiatan bisnis yang membutuhkan perjalanan pun tertunda.
Kerugian Berantai yang Tidak Tercatat di Statistik Titik Api
Rangkaian kejadian itu memperlihatkan kerugian karhutla punya efek berantai. Pedagang kehilangan pembeli karena masyarakat memilih di rumah. Pekerja kehilangan jam kerja karena kondisi udara. Transportasi terganggu karena jarak pandang. Sektor usaha kehilangan konsumen karena mobilitas menurun.
Semua kerugian itu jarang muncul dalam laporan luas lahan terbakar atau jumlah titik api. Padahal, biaya ekonominya ditanggung langsung oleh warga yang paling tidak punya penyangga keuangan. Karhutla di Kalimantan Barat dengan demikian bukan hanya agenda pemadaman, tetapi juga persoalan pemulihan ekonomi rakyat kecil.