PONTIANAK — Keracunan makanan umumnya dikenali dari gejala saluran cerna seperti mual, muntah, atau diare. Namun sejumlah toksin alami menyerang jalur berbeda: sistem saraf pusat dan tepi. Dampaknya bukan sekadar sakit perut, melainkan gangguan kognitif, kehilangan ingatan, hingga kelumpuhan otot.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat setidaknya lima jenis racun makanan yang punya efek neurologis. Masing-masing bekerja dengan mekanisme berbeda dan memunculkan gejala khas yang tidak selalu sama.
Domoic Acid, Racun Laut yang Dikaitkan dengan Amnesia
Domoic acid diproduksi oleh diatom dari genus Pseudo-nitzschia. Racun ini terakumulasi pada hewan laut yang memakan organisme tersebut, lalu berpindah ke manusia melalui konsumsi kerang dan krustasea.
Beberapa jenis kerang yang berpotensi menjadi sumber paparan antara lain mussels, razor clams, dan scallops. CDC menyebut kondisi keracunan akibat zat ini sebagai amnesic shellfish poisoning (ASP) atau keracunan kerang amnestik.
Gejala awal biasanya muncul pada saluran pencernaan kurang dari 24 jam setelah konsumsi. Setelah itu, keluhan neurologis menyusul: sakit kepala, gangguan kognitif, hingga kehilangan ingatan.
Dalam kondisi berat, keracunan domoic acid dapat berkembang menjadi kejang, koma, bahkan kematian. Gangguan memori menjadi ciri pembeda utama dari jenis keracunan makanan lain. Secara toksikologis, zat ini merupakan neurotoksin yang berkaitan dengan sistem neurotransmiter glutamat dan dapat merusak jaringan otak, terutama bagian yang berperan dalam proses belajar serta pembentukan memori.
Botulinum Toxin, Racun yang Menghambat Fungsi Saraf
Botulinum toxin dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan toksin ini bekerja dengan menghambat fungsi saraf, sehingga penderitanya dapat mengalami kelemahan otot hingga kelumpuhan.
Botulisme akibat makanan terjadi ketika seseorang mengonsumsi produk yang diproses atau disimpan secara tidak tepat, sehingga bakteri tumbuh dan menghasilkan toksin. Beberapa makanan yang pernah dikaitkan dengan kasus ini antara lain sayuran awetan rendah asam, tuna kalengan, ikan yang difermentasi, diasinkan, atau diasap, serta produk daging seperti ham dan sosis.
Gejala awal meliputi tubuh terasa sangat lelah, lemas, pusing, penglihatan kabur, mulut kering, hingga kesulitan menelan dan berbicara. Pada kondisi berat, kelemahan otot menjalar ke leher, lengan, dan otot pernapasan. Botulisme tergolong kondisi serius yang mengancam nyawa tanpa penanganan segera.
Meski sama-sama menyerang sistem saraf, botulinum toxin tidak dikenal sebagai penyebab khas amnesia. Gangguan yang paling menonjol berkaitan dengan fungsi saraf dan kelemahan otot.
Tetrodotoxin pada Ikan Buntal, Gejala Muncul 10 Menit hingga 4 Jam
Tetrodotoxin paling sering dikaitkan dengan ikan buntal atau pufferfish. CDC mencatat keracunan zat ini dapat menyebabkan kesemutan, gangguan sensasi, pusing, hingga kelumpuhan.
Gejalanya muncul relatif cepat, sekitar 10 menit hingga empat jam setelah paparan. Racun bekerja pada sistem saraf dan dalam kondisi tertentu menimbulkan gangguan neurologis serius. Berbeda dengan domoic acid, tetrodotoxin tidak secara khas dikaitkan dengan kehilangan ingatan. Dampak utamanya berupa gangguan fungsi saraf dan kelumpuhan.
Ciguatoxin dari Ikan Karang dan Gejala Unik Sensasi Terbalik
Ciguatoxin merupakan kelompok racun laut penyebab ciguatera fish poisoning. Racun ini ditemukan pada ikan karang berukuran besar yang memangsa ikan lain, antara lain barracuda, grouper, snapper, amberjack, moray eel, dan sea bass.
Keracunan umumnya diawali gangguan sistem pencernaan, lalu diikuti gejala neurologis yang memengaruhi sensasi tubuh. Salah satu gejala khas yang dicatat CDC adalah reversal of hot and cold sensation, kondisi ketika penderitanya merasakan sensasi suhu secara terbalik.
Kelima racun ini menunjukkan bahwa keracunan makanan tidak selalu berhenti di saluran cerna. Mengenali gejala neurologis sejak awal menjadi kunci penanganan cepat, terutama pada kasus yang berkembang berat.