PONTIANAK — BPBD Kalimantan Barat mencatat luas lahan terdampak karhutla di provinsi itu baru mencapai sekitar 38 ribu hektare sejauh ini. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan periode yang sama pada tiga tahun sebelumnya yang tembus lebih dari 100 ribu hektare.
"Kalau dari sisi luas, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, belum seberapa luasnya," kata Daniel, Selasa (8/9/2026).
Meski luasan lebih kecil, dampak yang dirasakan masyarakat justru sebaliknya. Kabut asap pekat dilaporkan menyelimuti hampir seluruh wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir.
Asap Pekat Bukan Berasal dari Kebakaran Lokal
Daniel menjelaskan, kabut tebal yang melanda ibu kota Provinsi Kalbar tidak berasal dari titik api di wilayah administratif Pontianak. Berdasarkan pantauan, lahan di dalam kota relatif aman dari kebakaran.
"Kota Pontianak secara administrasi itu tidak terbakar, tapi ada asap. Asap ini dibawa dari kabupaten lain yang terbakar dan terbawa oleh angin," ujarnya.
Asap yang menyebar justru berasal dari wilayah-wilayah lain di Kalbar yang mengalami kebakaran lahan. Pola sebaran ini membuat kualitas udara di Pontianak memburuk meski tidak ada titik panas di sekitar kota.
Karakteristik Kebakaran Lahan Gambut Dominasi Kasus
Ketebalan kabut asap yang melanda Pontianak menjadi karakteristik khas karhutla di Kalbar. Daniel menyebut mayoritas kasus kebakaran di provinsi itu terjadi pada lahan gambut yang sulit dipadamkan dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
"Parameternya secara umum orang lihat asapnya. Asap ini masih pekat menyelimuti seluruh kota," jelasnya kepada Metrotvnews.com.
Kebakaran lahan gambut memiliki karakteristik api yang membakar di bawah permukaan tanah sehingga sulit terdeteksi dan membutuhkan waktu lama untuk dipadamkan. Kondisi ini memperpanjang durasi produksi asap yang kemudian terbawa angin ke wilayah pemukiman.
Upaya Penanganan dan Potensi Perluasan Karhutla
BPBD Kalbar terus memantau perkembangan titik api di sejumlah kabupaten, termasuk Kubu Raya yang menjadi salah satu wilayah penyumbang asap terbesar. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan saat musim kemarau karena berisiko memperparah kualitas udara.
Daniel menambahkan, potensi perluasan karhutla masih terbuka selama musim kemarau belum berakhir. Pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Sebelumnya, kebakaran lahan sempat terjadi di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, pada Rabu (2/9/2026). Kejadian tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya ketebalan asap yang melanda Pontianak beberapa hari setelahnya.