KALIMANTAN BARAT — Paragraf pembuka: Pemerintah dan badan usaha penyalur BBM kembali menetapkan harga jual produk nonsubsidi per awal September 2026. PT Pertamina (Persero) menjadi acuan utama karena menguasai mayoritas jaringan SPBU nasional, sementara Shell, Vivo Energy, dan BP menyesuaikan harga masing-masing produk mengikuti kondisi pasar.
Pantauan pada Senin (14/9/2026) menunjukkan rentang harga yang cukup lebar antarproduk. BBM nonsubsidi termurah dijual Rp15.950 per liter, sedangkan varian diesel tertinggi menembus Rp25.420 per liter.
Rincian Harga di SPBU Pertamina
Pertamina menetapkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi sejak 2 September 2026. Harga Pertamax masih dipatok Rp15.950 per liter, sementara Pertamax Green dibanderol Rp19.150 per liter.
Untuk segmen performa tinggi, Pertamax Turbo dijual Rp19.600 per liter. Adapun harga Dexlite ditetapkan Rp23.700 per liter dan Pertamina Dex sebesar Rp25.200 per liter.
- Pertamax: Rp15.950 per liter
- Pertamax Green: Rp19.150 per liter
- Pertamax Turbo: Rp19.600 per liter
- Dexlite: Rp23.700 per liter
- Pertamina Dex: Rp25.200 per liter
BBM Subsidi Tidak Berubah
Di segmen subsidi, Pertamina memastikan tidak ada perubahan harga. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar dipatok Rp6.800 per liter.
Kepastian ini penting bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang mengandalkan kedua jenis bahan bakar tersebut untuk mobilitas harian maupun operasional.
Harga di SPBU Swasta
Penyesuaian harga juga terjadi pada produk yang dipasarkan badan usaha swasta. Shell menetapkan harga Shell V-Power Diesel sebesar Rp25.420 per liter, menjadikannya salah satu varian diesel termahal di pasar saat ini.
Selisih harga antara Pertamina Dex dan Shell V-Power Diesel tercatat tipis, hanya sekitar Rp220 per liter. Perbedaan ini umumnya dipengaruhi oleh formula aditif, segmen pelanggan, dan strategi penetapan harga masing-masing operator.
Penutup: Bagi konsumen, rentang harga yang lebar antarproduk memberi ruang memilih sesuai kebutuhan kendaraan dan anggaran. Namun fluktuasi harga BBM nonsubsidi tetap menjadi indikator yang perlu dicermati karena memengaruhi biaya transportasi dan distribusi barang di pasar domestik.