KALIMANTAN BARAT — Istilah almond mom populer setelah potongan video lawas Yolanda Hadid bersama putrinya, Gigi Hadid, kembali beredar di media sosial. Dalam tayangan The Real Housewives of Beverly Hills itu, Gigi yang masih remaja mengeluh lemas karena baru makan setengah butir almond. Jawaban Yolanda? "Makanlah beberapa almond dan kunyahlah dengan benar."
Menanggapi ramainya perbincangan, Yolanda mengklarifikasi bahwa komentarnya diambil di luar konteks karena ia baru saja menjalani operasi. Namun, istilah almond mom justru makin melekat sebagai gambaran pola asuh yang mengutamakan ketipisan di atas kesehatan.
Apa yang Dimaksud dengan Almond Mom?
Almond mom adalah sebutan untuk orang tua yang menerapkan aturan makan sangat ketat pada anak demi menjaga berat badan tetap rendah. Gaya ini tidak hanya berfokus pada porsi, tetapi juga kerap mengomentari bentuk tubuh anak secara langsung.
Dokter anak Karla Lester, MD, menilai fenomena ini berbahaya. Menurutnya, pola asuh ini berakar pada budaya diet, ketakutan akan kegemukan, dan proyeksi keinginan orang tua untuk bertubuh kurus. Dalam kasus tertentu, almond mom bisa menjadi perpanjangan dari gangguan makan yang dialami orang tua itu sendiri.
Dampak Komentar soal Berat Badan pada Kesehatan Mental Anak
Orang tua memegang peran besar dalam membentuk cara anak memandang tubuhnya sendiri. Kebiasaan mengomentari berat badan atau menyebut makanan tertentu sebagai 'baik' dan 'buruk' tanpa sadar menanamkan hubungan yang tidak sehat dengan makanan.
Penelitian dalam jurnal Sex Roles tahun 2023 menemukan bahwa rasa malu terhadap tubuh berkaitan erat dengan kesehatan mental yang buruk, seperti gangguan makan dan depresi. Ketidakpuasan terhadap tubuh juga berisiko menurunkan harga diri anak hingga ia dewasa.
Cara Menanamkan Kebiasaan Makan Sehat tanpa Menjadi Almond Mom
Ahli gizi anak sepakat bahwa membangun pola makan sehat tidak harus dimulai dengan aturan yang kaku. Ada tiga pendekatan yang bisa Bunda terapkan di rumah.
1. Hindari Menyebut Makanan sebagai 'Baik' atau 'Buruk'
Pelabelan seperti "sayuran itu baik, kue itu buruk" membuat anak mengaitkan nilai moral dengan makanan. Alih-alih menyuruh "makan wortelmu", coba ganti dengan kalimat yang lebih netral seperti "wortel membantu daya tahan tubuhmu tetap kuat".
Jika anak ingin makan kue, Bunda bisa berkata, "Gula memberi energi, tapi kue tidak ada dalam menu malam ini. Kita makan besok ya, kue apa yang kamu mau?" Cara ini mengajarkan moderasi tanpa memicu rasa bersalah.
2. Libatkan Anak dalam Persiapan Makanan
Anak yang diajak memasak atau menyiapkan makanan cenderung lebih berani mencoba bahan baru. Aktivitas ini juga membuat mereka paham asal-usul makanan dan merasa memiliki keputusan atas apa yang dimakan. Mulai dari hal sederhana seperti mencuci sayur atau mengaduk adonan kue.
3. Beri Contoh Lewat Kebiasaan Sehari-hari
Anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar. Perlihatkan pola makan seimbang dengan mengonsumsi buah, sayur, protein, dan camilan sesekali tanpa rasa bersalah. Sikap moderasi yang Bunda contohkan akan lebih membekas daripada seribu nasihat.
Mengubah cara bicara tentang makanan memang butuh latihan. Namun, memulai dari hal kecil hari ini bisa melindungi anak dari hubungan yang buruk dengan tubuhnya sendiri di masa depan. Yang terpenting, fokuslah pada kesehatan dan energi, bukan angka di timbangan.