KALIMANTAN BARAT — PT Freeport Indonesia (PTFI) tengah mempersiapkan masa depan operasionalnya di Papua dengan mengembangkan tambang bawah tanah baru bernama Kucing Liar. Proyek ambisius ini menelan biaya investasi total yang tidak sedikit, mencapai Rp 72 triliun.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengungkapkan, dari total investasi tersebut, dana yang sudah dikucurkan hingga saat ini mencapai Rp 24 triliun. Angka ini menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memastikan kelanjutan produksi jangka panjang, terutama setelah izin operasinya resmi diperpanjang melampaui tahun 2041.
Cadangan Raksasa di Perut Bumi Papua
Tambang Kucing Liar bukan proyek kecil. Perusahaan menargetkan tambang ini mampu memproduksi sekitar 130 ribu ton bijih tembaga per hari. Jika diakumulasikan selama periode operasinya, potensi cadangan yang bisa diekstraksi mencapai 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas.
"Fokus kita bukan hanya tahun ini, tapi long term. Apalagi kalau kita diperpanjang, sudah resmi diperpanjang melebihi tahun 2041," ujar Tony di area Sport Hall Tembagapura, Papua Tengah, Senin (17/8/2026).
Dengan skala produksi sebesar itu, Kucing Liar diharapkan mampu menggantikan peran tambang-tambang bawah tanah lain yang produksinya mulai menurun. PTFI memproyeksikan total produksi dari seluruh tambangnya akan stabil di level 240 ribu ton bijih per hari berkat hadirnya tambang anyar ini.
Eksplorasi Lebih Dalam untuk Masa Depan
Kepastian perpanjangan izin operasi menjadi kunci bagi Freeport untuk terus berinvestasi. Tony menegaskan, jika izin setelah 2041 benar-benar direalisasikan, perusahaan tidak akan berhenti di Kucing Liar. Mereka berencana melakukan eksplorasi lebih detail di lapisan bumi yang lebih dalam lagi.
"Jadi kita bisa continue stabil produksinya di level 240 ribu ton bijih per hari. Dan kalau seandainya kita diperpanjang, tentu kita akan eksplorasi lagi lebih detail bawahnya lagi. Kami yakin, kami confident bahwa di bawahnya masih ada lagi cadangan yang bisa kita tambang," terang Tony.
Langkah ini menunjukkan bahwa operasi Freeport di Indonesia masih memiliki prospek jangka panjang yang kuat. Keberadaan Kucing Liar tidak hanya menjamin kelangsungan produksi, tetapi juga memberikan kepastian bagi ribuan pekerja dan perekonomian lokal di Papua yang bergantung pada industri pertambangan.