Pencarian

Provinsi Kalbar Simpan Potensi Skandium dari Limbah Bauksit, Mineral Kritis yang Belum Diolah Secara Komersial

Jumat, 05 Juni 2026 • 18:49:59 WIB
Provinsi Kalbar Simpan Potensi Skandium dari Limbah Bauksit, Mineral Kritis yang Belum Diolah Secara Komersial
Limbah bauksit di Kalimantan Barat menyimpan potensi skandium yang belum diolah secara komersial.

PONTIANAKKalimantan Barat menyimpan potensi besar skandium dari limbah bauksit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Mineral kritis ini termasuk dalam daftar material yang diburu industri teknologi tinggi, mulai dari elektronik hingga energi terbarukan. Ironisnya, kekayaan tersebut masih tertimbun sebagai residu tambang tanpa pengolahan berarti.

Kandungan Skandium di Limbah Bauksit Kalbar

Skandium adalah logam tanah jarang yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena penggunaannya dalam bahan paduan aluminium, sel bahan bakar, dan lampu berintensitas tinggi. Dalam limbah bauksit atau red mud yang dihasilkan dari proses pemurnian alumina, unsur ini ditemukan dalam konsentrasi yang cukup signifikan di beberapa wilayah Kalbar.

Peneliti dari Universitas Tanjungpura menyebutkan bahwa potensi ini sudah teridentifikasi sejak beberapa tahun lalu. Namun, hingga kini belum ada langkah konkret dari sektor swasta maupun pemerintah untuk mengolahnya secara komersial.

Mengapa Skandium Belum Diolah Secara Komersial?

Kendala utama ada pada teknologi ekstraksi yang masih mahal dan kompleks. Proses pemisahan skandium dari limbah bauksit membutuhkan metode kimiawi tingkat tinggi yang belum dikuasai secara massal di Indonesia. Selain itu, volume limbah yang besar dan biaya logistik menjadi faktor penghambat investasi.

Pemprov Kalbar melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral setempat mengakui bahwa potensi ini masih dalam tahap kajian. Pihaknya mendorong kerja sama dengan pusat riset dan investor yang memiliki kapasitas teknologi pengolahan mineral kritis.

Fakta Singkat Potensi Skandium di Kalbar

  • Skandium termasuk dalam 30 mineral kritis yang diprioritaskan pemerintah Indonesia.
  • Limbah bauksit Kalbar berasal dari aktivitas tambang di Kabupaten Sanggau, Landak, dan sekitarnya.
  • Harga skandium oksida di pasar global bisa mencapai ribuan dolar per kilogram.

Dampak Ekonomi Jika Diolah

Jika potensi ini berhasil dikomersialkan, Kalbar bisa menjadi salah satu pemasok skandium dunia. Nilai tambah dari limbah bauksit akan melonjak drastis, tidak lagi sekadar residu yang menumpuk di area penampungan. Lapangan kerja baru di sektor riset dan pengolahan mineral pun berpotensi terbuka.

Namun, semua itu masih bergantung pada keseriusan pemerintah pusat dalam mendorong hilirisasi mineral kritis. Tanpa insentif dan regulasi yang jelas, limbah bauksit Kalbar hanya akan terus menjadi tumpukan potensi yang menganggur.

Arah Kebijakan ke Depan

Pemerintah provinsi berencana menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempercepat studi kelayakan. Beberapa perusahaan tambang nasional juga mulai melirik potensi ini sebagai diversifikasi bisnis di luar alumina. Namun, belum ada target waktu pasti kapan pengolahan komersial skandium di Kalbar bisa dimulai.

Bagikan
Sumber: pontianakpost.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks