KALIMANTAN BARAT — Proyek strategis yang dikelola Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini tidak hanya mengejar target fisik. Hingga akhir Juli 2026, lapangan mencatatkan 300 ribu jam kerja aman tanpa kecelakaan kerja (zero accident), dengan melibatkan 447 tenaga kerja terampil di lokasi proyek.
Rute Pipa dan Pembagian Segmen Pengerjaan
Secara keseluruhan, infrastruktur pipa Dusem akan membentang dari Stasiun Kompresor Gas (SKG) Belawan hingga Fasilitas Duri dengan total panjang sekitar 535,4 kilometer. Agar pengerjaan lebih efisien, transmisi ini dipecah menjadi dua segmen yang dikerjakan paralel.
Segmen 1 menghubungkan Belawan menuju Stasiun Labuhan Batu, sementara Segmen 2 yang kini tengah dikebut menghubungkan Stasiun Labuhan Batu hingga Fasilitas Duri. Fokus percepatan saat ini berada di segmen kedua yang membentang sepanjang 266,8 kilometer, melintasi medan yang bervariasi mulai dari perkebunan hingga area rawa.
Krusialnya Pekerjaan Open Cut dan Standar Kedalaman
Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman dalam kunjungan lapangannya ke lokasi proyek, Jumat (31/7/2026), menyoroti tahapan open cut sebagai salah satu pekerjaan paling krusial dalam pemasangan pipa transmisi gas. Metode penggalian terbuka ini menjadi penentu keamanan pipa dalam jangka panjang.
"Kepatuhan kedalaman pipa, pekerjaan penggalian open cut wajib memenuhi spesifikasi kedalaman yang telah ditetapkan dalam aturan teknis. Standar kedalaman ini penting tidak hanya untuk keamanan jangka panjang pipa, tetapi juga menjadi poin krusial saat uji kelayakan teknis maupun audit pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)," jelas Laode dalam keterangan resminya.
Ia mengapresiasi tren positif pengerjaan di lapangan. Capaian 32 persen dinilai menunjukkan komitmen seluruh kontraktor dan pekerja dalam menjaga kualitas di tengah target waktu yang ketat.
Dampak bagi Industri dan Ketahanan Energi
Kehadiran pipa Dusem diharapkan mampu menjawab disparitas pasokan gas antara wilayah Sumatra Utara dan Riau. Selama ini, sebagian industri di kawasan Sei Mangkei dan Dumai masih mengandalkan pasokan yang terbatas atau bahan bakar alternatif yang lebih mahal.
Begitu beroperasi penuh, aliran gas dari jaringan transmisi ini akan menyuplai pembangkit listrik, pabrik pupuk, hingga kawasan industri hilir. Bagi masyarakat, dampak berantainya adalah pasokan listrik yang lebih stabil dan harga energi yang lebih kompetitif untuk industri pengolahan, yang pada akhirnya membuka lapangan kerja baru.
Pemerintah menargetkan seluruh segmen pipa ini beroperasi sebelum 2028. Jika rampung sesuai jadwal, jaringan ini akan terintegrasi dengan sistem pipa eksisting di Sumatra, memperkuat infrastruktur energi nasional yang selama ini terkonsentrasi di Jawa.