Pencarian

Pekan Gawai Dayak Digelar di Pontianak, Gubernur Kalbar Apresiasi Pelestarian Budaya dan Penguatan Persatuan

Minggu, 07 Juni 2026 • 14:02:02 WIB
Pekan Gawai Dayak Digelar di Pontianak, Gubernur Kalbar Apresiasi Pelestarian Budaya dan Penguatan Persatuan
Gubernur Kalbar Ria Norsan memberikan apresiasi pada Pekan Gawai Dayak di Pontianak sebagai upaya pelestarian budaya.

PONTIANAK — Pekan Gawai Dayak yang digelar di Pontianak mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan. Ia menilai kegiatan ini sebagai bentuk nyata pelestarian budaya sekaligus penguatan persatuan masyarakat di tengah keragaman etnis dan agama di Kalbar.

“Acara ini menjadi ruang silaturahmi dan mempererat kebersamaan,” ujar Ria Norsan dalam sambutannya, seperti dikutip dari laman resmi pemerintah daerah.

Pesta Rakyat di Kaltim: Ruang Silaturahmi Lintas Budaya

Di Kalimantan Timur, pesta rakyat juga digelar sebagai rangkaian peringatan hari jadi ke-69 provinsi. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menegaskan bahwa kegiatan tersebut sengaja dihadirkan untuk memperkuat persatuan dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan budaya daerah.

“Pesta rakyat ini kita hadirkan sebagai ruang silaturahmi seluruh masyarakat Kalimantan Timur, mempererat persatuan dan kebersamaan, memberikan dampak nyata bagi pengembangan budaya,” kata Rudy Mas’ud, dikutip dari laman disdikbud.kaltimprov.go.id.

Keragaman Indonesia: Potensi Konflik dan Pentingnya Toleransi

Indonesia memiliki ratusan suku, bahasa, dan kepercayaan lokal. Potensi gesekan sosial tetap ada meski dalam skala kecil. Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi pernah menyebut bahwa perpecahan berpotensi terjadi jika konflik dikaitkan dengan agama, terutama yang disertai kekerasan.

Menurutnya, moderasi beragama menjadi strategi kebudayaan dalam merawat keindonesiaan. Namun, tudingan intoleransi kerap diarahkan kepada umat Islam.

Toleransi dalam Sejarah Islam: Tanpa Moderasi Agama

Dalam tulisannya, Dedah Kuslinah mengutip pandangan orientalis Thomas Walker Arnold. Arnold menggambarkan kebijakan Khilafah Islamiyah, khususnya Utsmaniyah, terhadap penduduk non-Muslim sebagai contoh toleransi tinggi dan perlindungan hak keyakinan. Perlakuan adil itu, menurut Arnold, melampaui standar Eropa pada masanya.

“Secara historis, tanpa moderasi agama pun, Islam menjunjung tinggi toleransi. Selama 13 abad lebih, seluruh agama hidup damai dan sejahtera dalam naungan khilafah,” tulis Dedah.

Moderasi Agama: Olah Pikir RAND Corporation?

Dedah juga menyoroti asal-usul konsep moderasi agama. Menurutnya, moderasi agama merupakan olah pikir dari RAND Corporation, sebuah wadah pemikir kebijakan global asal Amerika Serikat. Sebuah studi RAND menyebut bahwa Amerika dan sekutunya dapat melawan kekuatan Islam radikal dengan memahami beragam pandangan di kalangan umat muslim.

RAND Corporation mengelompokkan umat Islam ke dalam empat kategori: fundamentalis, tradisionalis, modernis, dan sekularis. Menurut Dedah, moderasi agama adalah paham keagamaan yang sesuai selera Barat yang sekuler.

“Umat Islam selayaknya sudah menyadari siapa pemeran utama di balik proyek moderasi ini, agar memiliki kesamaan dalam memandang musuh sejatinya,” tulisnya.

Toleransi Sesuai Syariat, Bukan Standar Barat

Dedah menegaskan bahwa tidak ada larangan dalam Islam bagi umatnya untuk menerapkan budaya atau kearifan lokal, asalkan tidak bertentangan dengan syariat. Solusi toleransi, menurutnya, harus lahir dari pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam, bukan dari konsep yang dirancang oleh kepentingan asing.

Bagikan
Sumber: suarakalbar.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks