PONTIANAK — Ketua Dekranasda Kalbar Erlina Ria Norsan menyatakan pihaknya akan terus mendorong wastra daerah masuk ke dalam keseharian warga. Langkah ini diambil untuk memastikan kain tradisional seperti tenun, batik, dan songket khas Kalbar tidak hanya dipakai pada acara formal, tetapi juga menjadi pilihan busana sehari-hari yang relevan dengan tren kekinian.
Inovasi Busana dari 14 Kabupaten/Kota
Menurut Erlina, seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat saat ini sudah memiliki inovasi busana berbasis kain tradisional. Produk-produk ini dinilai tidak hanya sarat nilai budaya dan filosofi, tetapi juga mampu tampil modern, elegan, dan berdaya saing di pasar nasional.
"Ini tentu menjadi potensi daerah yang patut untuk kita budayakan penggunaannya," kata Erlina di Pontianak, Rabu.
Dampak Ekonomi bagi Perajin UMKM
Erlina menambahkan, penguatan ekosistem wastra daerah membawa dampak ekonomi yang signifikan. Meningkatnya minat masyarakat terhadap busana berbasis wastra akan membuka peluang pasar yang lebih besar bagi produk lokal.
"Meningkatnya minat masyarakat terhadap penggunaan busana berbasis wastra akan membuka peluang yang lebih besar bagi perajin lokal. Ini menjadi momentum untuk memperkuat produksi, kualitas, dan pemasaran," ujarnya.
Tantangan: Dari Panggung ke Gaya Hidup Sehari-hari
Erlina menekankan bahwa capaian para peserta dalam berbagai ajang promosi wastra hanyalah awal. Tantangan terbesar ke depan adalah memastikan kain tradisional tidak hanya melenggang di atas panggung peragaan busana.
"Prestasi ini adalah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan wastra daerah tidak hanya melenggang di atas panggung, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari," kata dia.
Dekranasda Kalbar berharap semangat pelestarian dan inovasi ini terus berkembang. Targetnya, produk budaya Kalimantan Barat semakin dikenal luas dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.