KALIMANTAN BARAT — Seorang pengguna Reddit berbasis di Kanada mengaku ponsel Galaxy S25 FE miliknya meledak saat diisi daya semalaman. Peristiwa terjadi saat ponsel dicas menggunakan kabel bawaan dan charger pihak ketiga 20W USB-PD — karena Samsung tidak lagi menyertakan charger dalam kotak penjualan. Ponsel diletakkan di atas kasur tempat pengguna dan anaknya tidur, meski tidak berada di bawah bantal.
Korban terbangun dari suara letupan. "Logam dan plastik beterbangan seperti kembang api dari ponsel," tulisnya. Dinas pemadam kebakaran datang untuk memadamkan asap dan mengamankan perangkat. Pengguna mengalami rambut terbakar dan luka kecil di leher, sementara anaknya disebut mengalami trauma psikologis. Ruangan juga mengalami kerusakan asap dan bau menyengat yang tak kunjung hilang.
Koin di Dalam Casing: Pemicu atau Kambing Hitam?
Pengakuan bahwa ponsel disimpan dalam casing dompet kulit tebal berisi koin menjadi sorotan. Secara teknis, benda logam di dalam casing yang tebal bisa memerangkap panas dan memperburuk kondisi termal ponsel. Namun, para insinyur baterai menekankan bahwa ponsel modern memiliki lapisan pengaman berlapis — mulai dari thermal throttling hingga pemutusan arus otomatis — yang seharusnya mencegah baterai mencapai titik thermal runaway.
"Fakta bahwa pengaman itu gagal menunjukkan ada kemungkinan cacat produksi atau desain baterai," ujar seorang teknisi yang enggan disebut namanya. Samsung sendiri belum memberikan pernyataan resmi, meski pengguna telah mendapatkan nomor tiket layanan. Ini adalah insiden ketiga yang dilaporkan tahun ini untuk lini Galaxy S series, setelah Galaxy S25 Plus dan Galaxy S24 sebelumnya.
Tiga Insiden dalam Setahun: Pola atau Kebetulan?
Sejak Januari 2026, setidaknya tiga laporan kebakaran ponsel Samsung Galaxy S series muncul di forum publik. Insiden pertama melibatkan Galaxy S25 Plus yang meledak saat diisi daya. Kedua, pengguna Galaxy S24 mengaku ponselnya terbakar di tangan saat digunakan normal. Kini giliran Galaxy S25 FE yang menyusul.
Meski jumlah laporan masih sangat kecil dibandingkan puluhan juta unit yang terjual secara global, pola ini mengingatkan publik pada era Galaxy Note 7 yang ditarik dari pasar karena risiko kebakaran baterai. Bedanya, Samsung saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk dua insiden terakhir. Android Authority yang melaporkan insiden ini telah menghubungi Samsung dan masih menunggu tanggapan.
Apa yang Harus Dilakukan Pengguna agar Aman?
Meski insiden ini masih tergolong kasus terisolasi, ada beberapa langkah yang bisa mengurangi risiko. Pertama, hindari casing dompet tebal atau casing yang menutupi seluruh permukaan ponsel — terutama saat mengisi daya. Kedua, gunakan charger dan kabel dari merek ternama, bukan aksesori tanpa nama. Ketiga, jangan pernah mengisi daya ponsel di atas kasur, sofa, atau permukaan empuk yang bisa memerangkap panas.
Jika ponsel mulai terasa panas tidak wajar, berasap, atau mengeluarkan bau kimia, segera jauhkan dari bahan mudah terbakar dan hubungi pemadam kebakaran. Jangan menyentuh ponsel dengan tangan kosong, dan jangan menyiramnya dengan air di dalam ruangan — baterai lithium-ion bisa bereaksi eksplosif jika terkena air.
Apakah Samsung Akan Melakukan Penarikan Produk?
Sejauh ini belum ada indikasi penarikan massal. Namun, tekanan publik akan meningkat jika insiden keempat atau kelima muncul dalam waktu dekat. Pengamat industri menilai Samsung perlu segera mengeluarkan pernyataan resmi dan melakukan investigasi menyeluruh untuk menjaga kepercayaan konsumen — terutama di pasar Asia seperti Indonesia, di mana lini Galaxy S series menjadi salah satu ponsel premium paling populer.