Dalam wawancara eksklusif dengan WIRED akhir Juli lalu, Sulzberger tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. "Ini adalah biaya untuk membela jurnalisme—di New York Times dan di mana pun," katanya tegas. Ia memimpin NYT dalam transformasi digital yang sukses besar, tetapi kini menghadapi ancaman yang jauh lebih fundamental: model AI yang dilatih menggunakan karya jurnalistik tanpa izin.
Dua Musuh Sekaligus: Gedung Putih dan Silicon Valley
Sulzberger menggambarkan situasi saat ini sebagai perang dua front. Di satu sisi, pemerintahan Trump melancarkan serangan terhadap kebebasan pers—terbaru dengan mengeluarkan subpoena terhadap jurnalis NYT yang melaporkan jet pemberian Qatar yang digunakan sebagai Air Force One. Departemen Kehakiman bahkan meminta catatan telepon dan pesan teks jurnalis beserta anggota keluarga mereka.
"Ini adalah upaya terbesar untuk menekan pers sejak Woodrow Wilson, lebih dari seabad lalu," ujar Sulzberger. Para jurnalis NYT, katanya, terus bekerja di bawah tekanan yang belum pernah terjadi dalam beberapa generasi.
Di sisi lain, perusahaan AI seperti OpenAI dan Microsoft mengubah cara orang mencari dan mengonsumsi informasi. Model bahasa besar mereka bergantung pada konten berita yang dihasilkan oleh ruang redaksi—tetapi justru berpotensi menghancurkan model bisnis media yang memproduksinya.
Gugatan Rp 320 Miliar yang Belum Selesai
NYT menggugat OpenAI dan Microsoft pada akhir 2023 dengan tuduhan pelanggaran hak cipta sistematis. Perusahaan media tertua di AS itu mengklaim bahwa jutaan artikel NYT digunakan untuk melatih model AI tanpa izin atau kompensasi. Hingga kini, proses hukum masih berada pada tahap awal—motion saling diajukan, dan permintaan discovery masih berlangsung.
Sulzberger menolak anggapan bahwa pertarungan hukum ini hanya tentang uang. "Ini tentang prinsip. Jika jurnalisme berkualitas tidak bisa dilindungi, maka apa yang akan terjadi pada demokrasi?" tanyanya retoris. NYT sendiri saat ini memiliki lebih dari 13 juta pelanggan dan dianggap sebagai salah satu ruang redaksi paling stabil di industri.
AI Bukan Hanya Musuh, Tapi Juga Alat
Menariknya, Sulzberger tidak sepenuhnya anti-AI. Di dalam ruang redaksi NYT, teknologi kecerdasan buatan mulai digunakan untuk tugas-tugas tertentu. Namun ia menekankan bahwa AI harus menjadi alat, bukan pengganti jurnalis. "Kami tidak akan pernah menyerahkan fungsi editorial kepada mesin," tegasnya.
Ia juga menyerukan agar para eksekutif media dan jurnalis bersatu—meski tetap bersaing ketat—untuk menghadapi ancaman eksistensial ini. "Kita semua berada di perahu yang sama. Jika model bisnis jurnalisme runtuh, tidak ada perusahaan AI yang bisa menggantikannya," katanya.
Pelajaran untuk Industri Media Indonesia
Kasus NYT vs OpenAI menjadi preseden yang diawasi ketat oleh penerbit di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa perusahaan media Tanah Air mulai melaporkan pencurian konten oleh agregator dan platform AI. Namun belum ada yang berani mengambil langkah hukum separah NYT.
Dengan biaya Rp 320 miliar dan waktu yang belum jelas, pertarungan Sulzberger menunjukkan satu hal: mempertahankan hak cipta di era AI bukanlah perang yang murah. Tapi menurutnya, tidak ada pilihan lain. "Kami tidak bisa hanya duduk diam dan membiarkan industri ini mati," pungkasnya.