SANGGAU — Didit Richardi mengatakan pihaknya telah mengantisipasi peralihan ancaman bencana tersebut. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menggelar rapat koordinasi yang meminta kesiapsiagaan daerah terhadap wilayah rawan banjir dan tanah longsor.
Menurut Didit, hujan yang mulai turun di sejumlah titik belum cukup menstabilkan cuaca. Bagian utara Kalimantan Barat yang seharusnya sudah memasuki musim hujan pada Oktober masih dilanda kemarau.
Tanah Berpori Besar Jadi Pemicu Longsor
Kemarau panjang meninggalkan dampak struktural pada tanah. Didit menjelaskan pori-pori tanah membesar selama musim kering, sehingga massa tanah lebih mudah bergerak begitu menerima suplai air dalam jumlah tinggi.
"Paling gampang terjadi adalah tanah longsor. Banjir terjadi kalau di hulu debit air hujan tinggi, baik banjir bandang maupun banjir genangan," ujar Didit.
Selain bantaran sungai, kawasan tutupan lahan terbuka disebutnya sama rawan. Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan pertambangan menghilangkan vegetasi yang seharusnya mereduksi air hujan.
"Kalau vegetasi sudah tidak ada lagi, tidak ada alasan lagi air bisa menyerap, akhirnya mereka mencari dataran yang lebih rendah. Terjadilah banjir," kata Didit.
Ia mencontohkan penggundulan hutan di kawasan Sosok yang dilintasi jalan. Banjir dan longsor di beberapa titik terjadi karena pembukaan lahan di sisi jalan.
Sarpras BPBD Sanggau Dinilai Cukup
Untuk menghadapi banjir, BPBD Sanggau menyatakan perahu, dapur umum, dan cadangan logistik tersedia. Didit menilai kesiapan sarana dan prasarana relatif memadai.
"Jadi kita relatif lebih siap. Cuma yang kita khawatirkan, kalau Karhutla ini, belum ada yang dekat permukiman sehingga menelan korban jiwa. Kalau banjir besar, kemungkinan ada korban jiwa. Itu yang coba kita minimalisir," sebutnya.
Iklim Ekstrem Bikin Siklus Banjir Sulit Diprediksi
Pola cuaca ekstrem membuat siklus banjir sulit dipelajari. Super El Nino yang biasanya berulang empat tahun sekali kali ini maju setahun, dan Didit tidak menutup kemungkinan jedanya makin pendek.
"Tahun ke depannya bisa maju setahun. Mungkin saja bisa setiap tahun. Karena itu memang iklim ekstrem. Tidak bisa diprediksi BMKG sekalipun," bebernya.
Prediksi berakhirnya Super El Nino di Indonesia pada Desember juga mundur. BMKG memperkirakan anomali itu baru berakhir pada Januari-Februari.
Didit menegaskan pembukaan lahan untuk usaha maupun permukiman seharusnya menunggu izin pemerintah. Instansi berwenang dinilai lebih tahu titik mana yang pembukaannya bisa mengancam lingkungan sekitar.