PONTIANAK — Pameran "SULUR: Manifestasi Hutan Adat dalam Kriya Kalimantan Barat" berlangsung selama empat hari, 28-31 Oktober 2026, di Arboretum Sylva Untan Park Pontianak. Puluhan karya yang dipamerkan bukan sekadar benda jadi, melainkan hasil eksplorasi material hutan yang dikerjakan seniman kriya lintas generasi.
Bahan bakunya beragam: rotan, bambu, pandan, purun, kayu, getah, kulit kayu, dan berbagai serat siam. Semua diolah menjadi anyaman, perabot, ukiran, aksesori, hingga eksperimen material kontemporer yang memadukan teknik tradisional dengan pendekatan seni rupa terkini.
Enam Kawasan Hutan Adat Jadi Rujukan Material
Eksplorasi material dalam pameran ini merujuk pada enam kawasan, yaitu Sungai Utik di Kapuas Hulu, Tae dan Teringkang di Sanggau, Rimbe Kobar dan Dayak Simpang di Ketapang, serta Ohak di Landak. Enam kawasan itu dipilih karena merepresentasikan praktik kriya masyarakat tradisional Dayak yang masih hidup hingga kini.
Ketua Pelaksana Priscila Claudia menyebut pameran ini berangkat dari keinginan melihat kembali peluang dan keberlanjutan kriya pada masyarakat tradisional Dayak di berbagai wilayah Kalimantan Barat. Kriya, katanya, bukan sekadar hasil keterampilan tangan.
"Menjaga kriya berarti turut menjaga lingkungan, material, dan ruang belajar yang memungkinkan pengetahuan itu tetap hidup," ujarnya.
Ketersediaan Bahan Baku Menyusut, Pengetahuan Ikut Terancam
Priscila mengungkapkan praktik kriya hari ini menghadapi tantangan berat, terutama semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku alam akibat perubahan lingkungan dan berkurangnya akses terhadap sumber material. Persoalan itu, menurutnya, bukan semata soal sulitnya memperoleh bahan untuk membuat benda kriya.
"Kita menyadari bahwa praktik kriya hari ini menghadapi tantangan, terutama semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku alam akibat perubahan lingkungan dan berkurangnya akses terhadap sumber material," ungkapnya.
Kondisi tersebut menyangkut keberlanjutan pengetahuan, keterampilan, dan kebudayaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pada masyarakat adat Kalimantan Barat, praktik kriya umumnya berkembang melalui pengamatan dan pengalaman langsung.
"Pada masyarakat adat Kalimantan Barat, praktik kriya umumnya berkembang melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Pengetahuan diperoleh dengan menyaksikan orang tua atau anggota komunitas bekerja, mengenali material di lingkungan sekitar, mencoba teknik, mengulang proses, dan memperbaiki kesalahan," ulas Priscila.
Diskusi Lintas Disiplin dan Lokakarya Material Hutan
Pameran ini juga dilengkapi diskusi ilmiah lintas disiplin yang melibatkan akademisi seni rupa, silvikultur, dan praktisi kriya. Lokakarya digelar sebagai ruang pertukaran pengetahuan dan eksplorasi material berbasis hutan.
Rangkaian kegiatan itu dirancang agar pengunjung tidak hanya melihat hasil akhir kriya yang indah, tetapi juga memahami proses dan pengetahuan di baliknya. Pameran berlangsung hingga 31 Oktober 2026 di Arboretum Sylva Untan Park Pontianak.