KALIMANTAN BARAT — Ensign InfoSecurity merilis temuan AI Cyber Range yang menunjukkan 10 dari 150 model AI publik terbaik mampu menembus 7 dari 8 target serangan siber secara mandiri. Model GPT-5.6 Sol, Claude Opus 4.8, dan GLM 5.2 mencatat tingkat keberhasilan tertinggi, dengan GLM 5.2 hanya berbiaya 20 persen dari kompetitornya. Temuan ini menandakan biaya, bukan lagi keahlian teknis, yang menjadi pendorong utama kejahatan siber berbasis AI.
Perusahaan keamanan siber Ensign InfoSecurity mengungkap hasil pengujian fasilitas AI Cyber Range miliknya. Sepuluh model AI terbaik dari 150 model publik yang dievaluasi terbukti mampu menjalankan tahapan rangkaian serangan siber terhadap organisasi secara mandiri. Kemampuan ini menekan kebutuhan biaya dan keahlian teknis yang biasanya diperlukan peretas manusia.
Tiga Model dengan Tingkat Keberhasilan Tertinggi
Ensign menyeleksi 10 model dari lebih dari 150 model AI publik untuk diuji terhadap delapan target serangan siber. GPT-5.6 Sol dari OpenAI, Claude Opus 4.8 dari Anthropic, dan GLM 5.2 dari Z.AI mencatatkan performa teratas dengan menembus 7 dari 8 tujuan serangan.
Yang mencuri perhatian, model asal China Z.AI GLM-5.2 menunjukkan kemampuan ofensif setara GPT-5.6. Namun biaya operasionalnya hanya sekitar 20 persen atau seperlima dari model tersebut.
Biaya Jadi Pendorong Baru Kejahatan Siber
Efisiensi biaya model AI asal China ini mengubah lanskap ancaman siber. Faktor biaya, bukan lagi kemampuan teknis, yang akan menjadi pendorong utama kejahatan siber berbasis AI. Artinya, aktor dengan sumber daya terbatas pun kini bisa mengakses kemampuan serangan yang setara dengan kelompok besar.
Perimeter Rentan, EDR Masih Tangguh
Pengujian Ensign mengungkap bahwa kesepuluh model AI yang diuji berhasil memperoleh akses awal di lingkungan jaringan terkontrol. Pertahanan luar atau perimeter organisasi sangat rawan ditembus oleh otomatisasi AI.
Meski demikian, keandalan model AI menurun saat mencoba mencuri kredensial dan bergerak antar-sistem. Tidak ada satu pun model yang berhasil meloloskan diri dari sistem perlindungan Endpoint Detection and Response (EDR).
Pemantauan Internal Jadi Kunci Pertahanan
Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra, menegaskan bahwa pemantauan internal tetap menjadi kunci membendung serangan AI.
"Meskipun model AI canggih sudah mampu menjalankan berbagai tahapan serangan siber, kemampuan deteksi dan respons yang efektif masih dapat menjadi hambatan yang berarti setelah akses awal berhasil diperoleh. Kontrol identitas yang kuat dan segmentasi jaringan dapat mempersulit penyerang untuk bergerak lebih jauh," jelas Adithya, di Jakarta Rabu (16/9/2026).
Implikasi bagi Organisasi di Indonesia
Bagi pelaku bisnis digital dan organisasi di Indonesia, temuan ini menjadi peringatan bahwa pertahanan perimeter saja tidak cukup. Segmentasi jaringan dan kontrol identitas yang kuat menjadi lapisan pertahanan yang wajib diperkuat. Organisasi perlu memastikan sistem EDR berjalan optimal sebagai benteng terakhir setelah akses awal berhasil ditembus.