KALIMANTAN BARAT —
Menghadirkan Hunian Layak bagi Mereka yang Berjasa
Program Rumah Cahaya yang diinisiasi Yayasan Pahlawan Harapan Sejahtera Indonesia Emas (PHSI) ini menyasar para pahlawan yang selama ini belum merasakan kenyamanan memiliki rumah. Ketua Dewan Pembina Yayasan PHSI sekaligus Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum memiliki hunian layak, termasuk mereka yang telah berjuang untuk bangsa.
"Indonesia sudah merdeka 81 tahun, tetapi sebagian rakyat kita belum bahagia karena belum memiliki rumah yang layak. Karena itu, kita ingin membantu mereka yang belum memiliki rumah layak huni, termasuk para pahlawan yang telah berjasa bagi bangsa ini," ujar Hashim dalam acara penyerahan sertifikat di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait memberikan apresiasi atas inisiatif ini. Ia menilai program tersebut menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dalam mengatasi persoalan perumahan. Menurutnya, kolaborasi super tim antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat adalah kunci utama.
"Saya mengucapkan terima kasih atas inisiatif ini. Ini sangat baik karena memang pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Yang penting adalah membangun super tim dan membangun kolaborasi," kata Maruarar saat meninjau langsung rumah yang diserahkan.
SHM untuk Kepastian Kepemilikan dan Warisan Keluarga
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menegaskan bahwa penyerahan SHM menjadi elemen penting dalam program ini. Sertifikat tersebut memastikan rumah yang diterima benar-benar menjadi aset milik penerima, bukan sekadar tempat tinggal sementara. Ini memberikan kepastian hukum dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Yang kita serahkan hari ini bukan sekadar kunci rumah, tetapi juga sertifikat hak milik. Artinya, rumah tersebut benar-benar menjadi milik Bapak dan Ibu, menjadi tempat untuk pulang, berkumpul bersama keluarga, dan mudah-mudahan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya," jelas Nixon.
Menurutnya, perhatian terhadap perumahan tidak berhenti pada upaya membantu masyarakat memiliki rumah, tetapi juga mencakup penyediaan hunian yang layak bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan. "Bagi kami, apa yang dilakukan hari ini bukan sekadar penyerahan rumah. Ini adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang dahulu telah memberikan begitu banyak bagi Indonesia," tambahnya.
Komitmen Berkelanjutan bagi Masyarakat Membutuhkan
Dukungan BTN terhadap penyediaan hunian layak bukan kali ini saja dilakukan. Sejak 2022 hingga 2026, bank milik negara ini telah mendukung pembangunan maupun renovasi 477 rumah sosial. Rumah-rumah tersebut diperuntukkan bagi keluarga prasejahtera, masyarakat berpenghasilan rendah, nelayan, petani pesisir, hingga masyarakat terdampak bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Nixon menekankan bahwa persoalan perumahan di Indonesia tidak cukup dijawab hanya dengan membangun rumah fisik. "Kita juga harus membangun manusia dan ekosistem perumahan yang akan menjadi fondasi perumahan Indonesia di masa depan," pungkasnya.
Legenda sepak bola Indonesia, Rully Nere, yang menjadi salah satu penerima manfaat, mengaku sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan. Baginya, hunian layak ini bukan sekadar aset, tetapi juga bentuk penghargaan yang memotivasi generasi muda untuk berprestasi di bidang olahraga.
"Saya sangat mengapresiasi pemberian rumah ini. Ini menunjukkan bahwa atlet yang sudah berjasa untuk Indonesia masih dihargai dan diperhatikan. Saya berharap perhatian seperti ini dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk berani memilih jalan sebagai atlet dan terus mengharumkan nama Indonesia," ujar Rully.