PONTIANAK — Ratusan anak dari keluarga prasejahtera itu tidak hanya akan belajar di kelas, tetapi juga tinggal di asrama yang telah disediakan di atas lahan seluas 5,7 hektare. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyebut mereka adalah anak-anak dari keluarga kategori desil 1 dan desil 2 yang telah melewati proses seleksi ketat beberapa bulan terakhir.
“Tahun ini ada 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Totalnya 270 siswa. Semuanya dari Kota Pontianak dan sudah diseleksi beberapa bulan lalu,” ujarnya saat membuka MPLS Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027, Kamis (30/7/2026).
Seleksi Melibatkan Pendamping PKH dan Kemensos
Proses seleksi tidak dilakukan sendiri oleh pemerintah kota. Edi menjelaskan, tim penjaringan melibatkan Kementerian Sosial, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Dinas Pendidikan, dan Dinas Sosial Kota Pontianak. Hal ini untuk memastikan kuota benar-benar diberikan kepada keluarga yang paling membutuhkan.
“Sesuai harapan Bapak Presiden Prabowo, Sekolah Rakyat ini menampung masyarakat miskin dan sangat miskin. Mereka harus kita muliakan, agar ke depan bisa mengubah kualitas kehidupan, terutama keluarganya,” jelas Edi dalam sambutannya.
Fasilitas Ditargetkan Rampung dalam Sebulan
Meski MPLS sudah dimulai, sejumlah pekerjaan fisik di lingkungan sekolah masih terus dikebut. Wali kota meninjau langsung aula, rumah ibadah, ruang kelas, hingga asrama dan memastikan bangunan utama sudah layak digunakan. Pekerjaan penyempurnaan yang masih berjalan meliputi drainase, akses jalan, utilitas, toilet, dan penghijauan.
“Mudah-mudahan dalam satu bulan terakhir ini semua bisa tuntas dan berfungsi optimal, termasuk penghijauan dan uji fungsi utilitas seperti drainase dan toilet,” kata Edi.
Adaptasi Anak SD Jadi Perhatian Khusus
Perpindahan dari rumah ke asrama menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi siswa jenjang SD yang masih sangat bergantung pada orang tua. Edi berpesan agar para siswa bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru dan tetap menjalin komunikasi dengan keluarga.
“Pesan saya, mudah-mudahan mereka betah, sehat, dan bisa bekerja sama dengan orang tua. Terutama yang SD, karena mereka masih anak-anak,” tuturnya.
34 Guru Disiapkan, Kolaborasi Lintas Instansi Digencarkan
Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, sekolah saat ini memberdayakan 34 tenaga pendidik yang terdiri dari guru kontrak dan tenaga tetap. Rekrutmen dilakukan melalui seleksi, termasuk dari Kementerian Sosial, dan jumlahnya akan terus ditambah sesuai kebutuhan.
“Gurunya sementara direkrut guru kontrak dan ada tenaga tetap. Ada 34 guru, nanti akan terus ditingkatkan dan dilengkapi,” jelas Edi.
Keberhasilan program ini, lanjut Edi, membutuhkan sinergi dari pemerintah pusat, provinsi, Pemkot Pontianak, guru, kepala sekolah, kepala asrama, hingga orang tua dan masyarakat sekitar. Ia berharap Sekolah Rakyat melahirkan generasi yang cerdas, kuat, berkarakter, dan berprestasi.
“Mudah-mudahan dengan Sekolah Rakyat ini, anak-anak menjadi harapan masa depan, bisa mengubah kualitas kehidupan keluarganya, dan berprestasi untuk masa depan Indonesia,” pungkasnya.