PONTIANAK — Harisson menilai dunia saat ini berada dalam situasi VUCA—volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity—yang membuat masyarakat kian sulit membedakan informasi yang benar dan menyesatkan. Di tengah derasnya arus informasi digital, peran wartawan menjadi krusial sebagai sumber yang akurat dan kredibel.
Mengapa Sertifikasi Wartawan Menjadi Penting?
Menurut Harisson, profesionalisme wartawan tidak cukup hanya dibangun dari pengalaman lapangan. Kompetensi yang terukur melalui sertifikasi menjadi bukti nyata bahwa seorang jurnalis memenuhi standar profesi.
"Ketika kompetensi wartawan memenuhi standar, maka kepercayaan masyarakat terhadap profesi jurnalis akan semakin meningkat. Ini juga menjadi upaya mengangkat marwah profesi wartawan di mata publik," tegasnya dalam sambutan.
Pemerintah Terbuka dengan Kritik, Asalkan Sesuai Fakta
Harisson memastikan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat tetap membuka ruang bagi media untuk menjalankan fungsi kontrol sosial. Syaratnya, karya jurnalistik harus disusun berdasarkan fakta, berimbang, dan mematuhi Kode Etik Jurnalistik.
"Kami selalu terbuka terhadap kritik, saran, maupun informasi yang disampaikan media. Selama disajikan secara berimbang, berdasarkan fakta, dan sesuai kode etik jurnalistik, itu akan menjadi masukan yang sangat berharga bagi pemerintah," ujarnya.
UKJ Bukan Sekadar Sertifikat, Tapi Komitmen
Ketua AMSI Kalimantan Barat, Muhlis Suhaeri, menekankan bahwa UKJ bukan sekadar ajang memperoleh sertifikat. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum bagi jurnalis untuk terus meningkatkan kapasitas di tengah perubahan lanskap media yang dinamis.
Ia berharap seluruh peserta menjadikan UKJ sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas karya jurnalistik yang berpihak pada kepentingan publik.
Tingkat Kepercayaan pada Media Global Masih di Bawah 50 Persen
Sementara itu, Ketua Penguji dari Lembaga Uji Kompetensi Kompas, Johanes Heru Margianto, mengingatkan tantangan besar yang dihadapi media saat ini. Mengutip Reuters Institute Digital News Report, ia menyebut tingkat kepercayaan terhadap media secara global masih berada di bawah 50 persen.
Integritas dan kredibilitas, kata Heru, menjadi modal utama yang harus dijaga oleh setiap insan pers agar kepercayaan publik bisa kembali pulih.
UKJ AMSI Kalbar 2026 menghadirkan tim penguji dari Lembaga Uji Kompetensi Kompas. Sebanyak 22 peserta dari 16 media siber di Kalimantan Barat mengikuti uji kompetensi ini sebagai upaya mencetak jurnalis yang kompeten, berintegritas, dan mampu menghadirkan informasi terpercaya bagi masyarakat.