KALIMANTAN BARAT — Berlin, Jerman — Sorotan tajam mengiringi langkah Jerman ke fase gugur Piala Dunia 2026. Meski lolos sebagai salah satu peserta 32 besar, penampilan Die Mannschaft selama tiga pertandingan penyisihan grup dinilai jauh dari kata memuaskan oleh publik dan pengamat sepak bola Jerman.
Kai Havertz Buka Suara: Kami Abaikan Kebisingan di Luar
Di tengah riuh rendah kritik, gelandang serang Kai Havertz angkat bicara. Pemain Arsenal itu menegaskan bahwa timnya sengaja memblokir semua masukan negatif dari luar untuk menjaga konsentrasi.
"Kami mendengar apa yang dikatakan orang, tapi kami tidak membiarkannya mengganggu persiapan," ujar Havertz dalam sesi jumpa pers, seperti dikutip media Jerman. "Kami fokus pada apa yang bisa kami kendalikan, yaitu pertandingan melawan Paraguay."
Fokus ke Paraguay: Kunci Lolos ke Babak Berikutnya
Lawan yang dihadapi Jerman di babak 32 besar bukanlah tim sembarangan. Paraguay dikenal memiliki pertahanan solid dan transisi cepat yang bisa merepotkan. Namun, Havertz yakin kualitas skuad Jerman masih di atas lawan.
"Kami tahu Paraguay tim yang berbahaya. Tapi jika kami bermain sesuai rencana dan memanfaatkan peluang, kami yakin bisa mengalahkan mereka," tegasnya.
Performan Kurang Greget di Fase Grup
Jerman memang belum tampil meyakinkan. Dari tiga laga penyisihan, mereka hanya meraih satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan. Catatan ini membuat posisi mereka di puncak klasemen grup sempat terancam.
Masalah di lini belakang dan penyelesaian akhir yang tumpul menjadi pekerjaan rumah utama pelatih Julian Nagelsmann. Namun, fase gugur adalah lembaran baru, dan Jerman bertekad membuktikan diri sebagai kandidat kuat juara.
Tekanan Jadi Motivasi, Bukan Beban
Alih-alih terpuruk, tekanan justru dijadikan bahan bakar oleh tim. "Kritik itu wajar. Tapi di turnamen sebesar ini, yang penting adalah bagaimana kami bereaksi," pungkas Havertz.
Laga Jerman vs Paraguay dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Kemenangan menjadi harga mati jika Jerman ingin melanjutkan misi merebut trofi Piala Dunia keempat kalinya dalam sejarah.