PONTIANAK — Edi Rusdi Kamtono menilai masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami sejarah kelam tersebut. Karena itu, ia menegaskan peringatan ini tidak boleh sekadar agenda seremonial tahunan.
“Tentunya masih banyak yang saya yakin belum paham dan belum mengetahui yang sebenar-benarnya peristiwa tersebut. Kita tahunya ada pembantaian di Mandor, bahkan ribuan orang,” ujarnya usai memimpin upacara di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Senin (29/6/2026) pagi.
Peristiwa Mandor: Ribuan Tokoh Dieksekusi di Hutan
Pada masa pendudukan Jepang tahun 1941 hingga 1945, banyak tokoh Kalimantan Barat ditangkap, dibawa, dan dieksekusi di Mandor. Edi menjelaskan, korban berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pemimpin daerah, cendekiawan, hingga masyarakat biasa.
“Banyak tokoh Kalbar, cendekiawan, pemimpin daerah ditangkap dan dibawa ke Mandor. Ada yang dipancung, ditembak, intinya dibunuh,” katanya.
Edi mengaku pernah berkunjung langsung ke Mandor dan melihat sejumlah makam massal yang tersebar di kawasan hutan. Menurutnya, pengalaman itu membuktikan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan sejarah nyata yang meninggalkan luka mendalam.
Pemkot Dorong Dokumentasi Sejarah untuk Generasi Muda
Edi mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk mengambil peran aktif dalam penelusuran sejarah, pendataan, dan dokumentasi peristiwa tersebut. Ia menekankan pentingnya literasi publik agar sejarah lokal tidak hilang dari ingatan generasi penerus.
“Tentu ini perlu juga kita lakukan upaya-upaya, khususnya para tokoh di Kota Pontianak. Karena anak keturunannya masih ada,” jelasnya.
Ia menggambarkan, kondisi Pontianak pada masa pendudukan Jepang sangat berbeda dengan sekarang. Jumlah penduduk saat itu masih sedikit, permukiman belum padat, dan infrastruktur jalan masih berupa tanah. Kondisi itu membuat para tokoh masyarakat mudah dikenali dan menjadi sasaran penangkapan.
Semangat Pejuang untuk Kerja Nyata Mengisi Kemerdekaan
Edi menegaskan, perjuangan masa kini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata. ASN, perangkat daerah, dan seluruh elemen masyarakat harus berperan dalam mengatasi kemiskinan, pengangguran, persoalan pendidikan, kesehatan, hingga masalah sosial lainnya.
“Semangat para pahlawan harus menggugah hati kita untuk berpartisipasi menghadapi berbagai persoalan masyarakat,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh jajaran Pemkot Pontianak untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi. Menurut Edi, semangat patriotisme dan nasionalisme akan tumbuh kuat apabila nilai persatuan, gotong royong, dan kepedulian terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari kita rapatkan barisan untuk membangun daerah, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mendukung program pemerintah melalui sinergitas yang kuat,” pungkasnya.