PONTIANAK — Tiga masjid kerajaan di Kalimantan Barat menjadi bukti sejarah perjalanan dakwah Islam yang berkelindan erat dengan pusat pemerintahan keraton. Hal tersebut terungkap dalam bedah riset sejarah tahun 2025 yang diterbitkan dalam bentuk buku oleh Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUSHA) IAIN Pontianak.
Dalam diskusi daring pada Jumat (08/05/2026), narasumber utama Dr. Zulkifli menjelaskan bahwa pembangunan masjid jami pada masa kerajaan selalu berdampingan dengan istana. Penempatan ini menegaskan simbol perpaduan antara otoritas politik dan nilai-nilai agama di wilayah tersebut.
Tiga Masjid Bersejarah di Tepian Sungai Kapuas
Riset tersebut memfokuskan kajian pada tiga bangunan monumental, yakni Masjid Jami Sultan Nata Sintang, Masjid Jami At-Taqwa Sekadau, dan Masjid Jami Sultan Ayyub Sanggau. Ketiganya dibangun di tepian Sungai Kapuas untuk memudahkan akses transportasi sekaligus pemenuhan kebutuhan bersuci bagi jemaah.
Masjid Jami Sultan Nata Sintang tercatat sebagai bangunan tertua yang didirikan oleh Maulana Sultan Nata Muhammad Syamsuddin pada 1672 Masehi. Sementara itu, Masjid Jami At-Taqwa Sekadau menyusul pada 1804 M di bawah kepemimpinan Pangeran Kesuma Negara.
Adapun Masjid Jami Sultan Ayyub Sanggau didirikan pada periode 1825-1828 Masehi oleh Sultan Ayyub Paku Negara. Pembangunan masjid di Sanggau ini berlangsung di tengah berkecamuknya era Perang Diponegoro di tanah Jawa.
Lahirnya Identitas Senganan dan Budaya Toleransi
Proses Islamisasi yang berpusat di masjid kerajaan turut memicu pergeseran identitas budaya masyarakat lokal. Warga Dayak yang memeluk Islam kemudian dikenal dengan sebutan kelompok "Senganan" dan perlahan melebur dalam identitas budaya Melayu.
Zulkifli menyebutkan bahwa perubahan keyakinan ini tidak memicu konflik, melainkan melahirkan hospitalitas yang kuat. Salah satu bukti nyata adalah tradisi masyarakat Dayak masa lampau yang memisahkan peralatan masak khusus demi menghormati kerabat mereka yang telah memeluk Islam.
“Masyarakat Dayak pada masa itu bahkan memisahkan peralatan memasak khusus untuk menghormati keluarga atau kerabat mereka yang telah memeluk Islam,” ujar Zulkifli yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan I FUSHA IAIN Pontianak.
Warisan Tradisi Akulturasi Sintang hingga Sanggau
Perkembangan dakwah melalui masjid-masjid tua ini mewariskan ragam tradisi akulturasi yang masih terjaga hingga saat ini. Di Sintang terdapat tradisi Terempoh, sementara masyarakat Sanggau mengenal ritual tolak bala Faraje, dan warga Sekadau menjalankan tradisi Mulang Hajat.
Zulkifli mendorong generasi muda untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban, tidak terbatas pada kegiatan ibadah ritual semata. Ia menekankan pentingnya masjid memiliki fasilitas pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan bagi warga.
“Masjid tidak hanya sekadar tempat ibadah mahdhah. Idealnya, masjid juga dilengkapi fasilitas pengembangan ekonomi warga, pusat pendidikan, hingga layanan cek kesehatan gratis bagi jamaah,” pungkasnya.