KALIMANTAN BARAT — BNI menyatakan siap menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif menyusul rencana Bank Indonesia menurunkan Giro Wajib Minimum secara bertahap mulai 1 November 2026. Pelonggaran likuiditas ini memberi perbankan ruang lebih besar untuk mendukung dunia usaha, dengan catatan kualitas aset tetap terjaga.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan tambahan ruang likuiditas dari penurunan GWM dapat memperbesar kapasitas perseroan dalam menyalurkan pembiayaan kepada dunia usaha. Menurut dia, fungsi intermediasi diarahkan agar kredit perbankan ikut menggerakkan kegiatan usaha dan investasi, termasuk menciptakan lapangan kerja.
Pernyataan itu disampaikan Okki dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026), merespons hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20–21 Oktober 2026.
Keputusan BI: Suku Bunga Tetap, GWM Turun Dua Tahap
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen. Suku bunga Lending Facility juga tidak berubah di 6,50 persen, sementara Deposit Facility dinaikkan menjadi 5 persen.
Yang menjadi sorotan pasar adalah keputusan menurunkan GWM secara bertahap. Untuk bank umum konvensional, GWM turun dari 9 persen menjadi 8 persen mulai 1 November 2026, lalu menjadi 7 persen pada 1 Desember 2026.
Bagi bank umum syariah dan unit usaha syariah, GWM diturunkan dari 7,5 persen menjadi 6,5 persen pada November 2026, kemudian menjadi 5,5 persen pada Desember 2026. Penurunan dua tahap ini memberi perbankan waktu menyesuaikan pengelolaan likuiditas.
Sektor Mana yang Dibidor BNI
Okki menyebut BNI memfokuskan pembiayaan pada sektor produktif yang punya prospek usaha sehat dan berpotensi meningkatkan kapasitas bisnis, investasi, serta penyerapan tenaga kerja. Arah ini sejalan dengan dorongan pemerintah agar kredit tidak menumpuk di segmen konsumtif.
Namun ia menegaskan ekspansi kredit tetap harus dibarengi pengelolaan risiko yang disiplin. Dinamika ekonomi global dan domestik menjadi pertimbangan utama agar kualitas aset tidak tergerus saat penyaluran kredit diperbesar.
"BNI terus mengoptimalkan fungsi intermediasi agar pembiayaan perbankan dapat mendukung kegiatan usaha dan investasi, sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja. Upaya ini dilakukan dengan tetap menjaga kualitas kredit dan ketahanan perusahaan," ujar Okki.
Sinergi HIMBARA Jadi Kunci
Sebagai anggota Himpunan Bank Milik Negara, BNI menempatkan sinergi dengan pemerintah, regulator, dan sesama bank pelat merah sebagai jalur untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dan agenda pembangunan nasional.
"Melalui penyaluran kredit yang berkualitas dan sinergi dengan pemerintah, regulator, serta anggota HIMBARA, BNI akan terus mendukung pembiayaan sektor produktif dan agenda pembangunan nasional," kata Okki.
Bagi nasabah dan pelaku usaha, penurunan GWM berpotensi membuat suplai kredit lebih longgar dalam dua bulan terakhir 2026. Bagi investor, kebijakan ini menjadi sinyal bahwa likuiditas perbankan nasional masih menjadi prioritas BI di tengah upaya menjaga stabilitas suku bunga.
Langkah BI menurunkan GWM tanpa mengubah BI-Rate menunjukkan pendekatan berbeda: mendorong kredit lewat jalur likuiditas, bukan lewat penurunan bunga acuan. BNI memilih mengikuti arah itu dengan menempatkan sektor produktif sebagai ujung tombak penyaluran.