PONTIANAK — Mengenakan topi koki dan celemek, para pejabat yang biasanya disibukkan urusan pemerintahan kali ini berjibaku dengan bumbu dan peralatan memasak. Lomba memasak bertema asam pedas ikan nila itu digelar di halaman PMI Kota Pontianak.
Panitia menyediakan ikan nila seberat 1,5 kilogram untuk setiap kelompok, lengkap dengan berbagai bumbu. Peserta diberi keleluasaan menentukan takaran dan berinovasi, termasuk memilih menggunakan kecombrang atau tidak.
Bekal Sepekan dari Istri untuk Wali Kota
Edi Rusdi Kamtono mengaku tidak melakukan persiapan khusus. Ia mendapat arahan memasak dari sang istri sejak sepekan sebelum perlombaan.
"Tidak ada persiapan khusus, cuma istri yang mengarahkan. Sudah satu minggu lalu diarahkan, jadi sekarang tinggal praktiknya," ujarnya.
Meski telah mendapat bekal dari istrinya, Edi mengakui mengolah ikan asam pedas bukan perkara mudah. Peserta harus mengatur komposisi bumbu dari bahan yang disediakan panitia tanpa diperbolehkan menambahkan bahan lain.
Selain racikan bumbu, tingkat kematangan ikan nila juga menjadi tantangan tersendiri. "Ikan nila ini kalau terlalu matang bisa lembek, jadi harus pas memasaknya," jelasnya.
Edi menilai perlombaan tersebut menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus kesempatan mengenal lebih dekat proses pengolahan kuliner khas Pontianak. Ia juga menekankan pentingnya menjaga asam pedas sebagai salah satu identitas kuliner daerah.
"Kalau ke Pontianak tidak makan asam pedas, rasanya belum sampai ke Pontianak," ucapnya.
Ajakan Konsumsi Ikan untuk Anak-Anak
Selain melestarikan kuliner daerah, Edi mengajak masyarakat membiasakan konsumsi ikan sebagai sumber protein, terutama bagi anak-anak. Pontianak memiliki akses terhadap hasil perikanan yang berasal dari sungai maupun laut.
"Kita harus banyak makan ikan karena kandungan proteinnya diperlukan, terutama untuk anak-anak. Jadi memang harus dibiasakan dalam menu sehari-hari ada ikan," pesannya.
Bahasan: Persiapan Tujuh Hari Tujuh Malam
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengaku belum memiliki pengalaman memasak. Dengan nada berseloroh, ia menyebut telah mempersiapkan diri selama tujuh hari tujuh malam untuk menghadapi tantangan di dapur.
"Persiapannya tujuh hari tujuh malam, karena memang belum pernah masak," ujarnya disambut tawa.
Bagi Bahasan, hasil masakan bukan menjadi tujuan utama. Ia melihat perlombaan tersebut sebagai kesempatan mempererat hubungan dan silaturahmi antaraparat sipil negara (ASN) serta pejabat di lingkungan Pemkot Pontianak.
"Mudah-mudahan dengan adanya agenda ini, kita bisa merajut kebersamaan dan silaturahmi, terutama di antara ASN dan para pejabat Pemkot Pontianak. Sehingga kita bisa berbagi kebahagiaan pada momentum hari jadi Kota Pontianak," katanya.
Bahasan berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar dengan melibatkan lebih banyak peserta. Ia bahkan membuka peluang agar lomba memasak makanan khas daerah tersebut dapat diikuti masyarakat umum.
"Insya Allah ke depan bisa saja melibatkan masyarakat, sehingga lombanya tidak hanya di lingkungan pemerintah kota," tambahnya.
Asam Pedas Pontianak Berbeda dari Ketapang
Ketua TP PKK Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie menjelaskan, pemilihan menu ikan asam pedas bertujuan mempertahankan kekhasan kuliner Pontianak agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, masakan asam pedas juga dijumpai di sejumlah daerah di Kalimantan Barat, tetapi masing-masing memiliki karakteristik bumbu dan cita rasa tersendiri.
"Asam pedas Pontianak berbeda dengan asam pedas Ketapang maupun daerah lainnya. Masing-masing punya cita rasa sendiri. Nah, kekhasan inilah yang ingin kita pertahankan," terangnya.
Yanieta menyebut asam pedas khas Pontianak biasanya tidak memakai kecombrang. Meski begitu, panitia tetap menyiapkannya agar peserta bisa berinovasi tanpa meninggalkan cita rasa khas daerah.
Untuk menjaga kesesuaian hasil masakan dengan karakteristik kuliner daerah, panitia menghadirkan juri yang memahami cita rasa asam pedas Pontianak. Konsep fun cooking sengaja dipilih agar para pejabat dapat menikmati suasana santai sekaligus membawa pesan pelestarian budaya kuliner.
"Biasanya bapak-bapak jarang ke dapur, lebih sering tinggal makan saja. Tetapi hari ini justru mereka yang memasak," kata Yanieta.