KALIMANTAN BARAT — Langkah WIKA keluar dari jerat utang mulai memperlihatkan hasil nyata. Selain berhasil menekan kewajiban kepada kreditur dan mitra kerja, perseroan juga membukukan perbaikan signifikan pada profitabilitas bisnis intinya di tengah tekanan industri konstruksi nasional.
Utang ke Mitra Kerja dan Bank Terus Menyusut
Berdasarkan laporan keuangan hingga 30 Juni 2026, WIKA telah membayar kewajiban kepada kreditur perbankan dan pemegang surat utang sebesar Rp 4,17 triliun pasca-restrukturisasi tahap I pada 28 Februari 2024. Dari jumlah tersebut, pembayaran senilai Rp 915,83 miliar dieksekusi dalam periode kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026.
Di sisi lain, utang kepada mitra kerja atau vendor juga berhasil dipangkas hingga Rp 5,02 triliun sejak restrukturisasi. Pada periode yang sama, pengurangannya mencapai Rp 1,23 triliun, menyisakan posisi utang sebesar Rp 4,32 triliun.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menyatakan bahwa pengelolaan kas yang disiplin menjadi kunci utama penyehatan ini. "Penerapan langkah transformasi ini menjadi bagian penting dari penyehatan yang dilakukan WIKA. Penurunan utang mitra kerja dan kreditur, pengelolaan kas secara tepat, peningkatan tata kelola, penurunan opex dan penerapan lean construction menjadi prioritas utama Perseroan dalam memastikan keberlanjutan bisnis yang sehat dan kuat," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (29/8/2026).
Margin Laba Melonjak Berkat Proyek Selektif
Perbaikan fundamental terlihat jelas dari kinerja operasional. Gross Profit Margin (GPM) WIKA pada kuartal II 2026 melesat menjadi 14,1 persen, berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 8,1 persen. Lonjakan ini ditopang oleh dua lini bisnis utama: infrastruktur & bangunan gedung serta proyek EPCC (Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning).
Hasilnya, EBITDA operasi perseroan tercatat positif sebesar Rp 769,01 miliar. Angka ini membuktikan bahwa pasca-restrukturisasi, mesin bisnis WIKA mampu berjalan lebih efisien dan produktif.
Kas Sehat: Tagihan Cepat dan Pilih Proyek Berbayar Bulanan
Salah satu jurus andalan WIKA untuk menjaga likuiditas adalah memilih proyek secara selektif. Kini, 96 persen dari total kontrak berjalan menggunakan skema pembayaran bulanan (monthly progress), yang memastikan arus kas masuk lebih stabil.
Strategi ini diperkuat dengan percepatan penagihan piutang. Sepanjang kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026, WIKA berhasil menurunkan total piutang sebesar Rp 2,07 triliun. Dana segar yang masuk langsung digunakan untuk menekan pokok utang, bukan untuk biaya operasional tambahan.
"Transformasi penyehatan ini adalah upaya berkelanjutan yang secara konsisten akan dijalankan Perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada seluruh stakeholders," tambah Ngatemin.
Dengan tren penurunan utang dan margin yang menguat, WIKA perlahan membangun kembali kepercayaan investor dan mitra bisnis. Jika konsistensi ini terjaga, BUMN konstruksi pelat merah ini memiliki pijakan yang lebih kokoh untuk bersaing di tengah ketatnya pasar infrastruktur dalam negeri.