LANDAK — Delapan peserta didik S-2 STIK resmi bergabung dalam Satgas Edukasi penanganan karhutla di Kabupaten Landak. Mereka akan disebar ke sejumlah titik rawan kebakaran untuk memberikan pemahaman kepada warga tentang bahaya membuka lahan dengan cara dibakar.
Pengerahan mahasiswa dari Lemdiklat Polri ini merupakan bagian dari penguatan penanganan karhutla di delapan wilayah Polda prioritas, salah satunya Polda Kalimantan Barat. Berbeda dengan personel yang bertugas memadamkan api di lapangan, Satgas Edukasi lebih fokus pada langkah preventif melalui komunikasi dan penyuluhan.
Kapolres: Edukasi Kunci Cegah Karhutla Sebelum Terjadi
Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari menyambut baik kedatangan para peserta didik tersebut. Menurutnya, penyuluhan kepada masyarakat menjadi langkah penting yang harus terus digencarkan, terutama menjelang musim kemarau.
"Kami menyambut baik kehadiran peserta didik STIK di Kabupaten Landak. Kehadiran Satgas Edukasi ini diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan karhutla melalui penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah yang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan," ujar Devi.
Dia menegaskan, pencegahan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar upaya ini berhasil.
"Upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama. Kami akan terus mengedepankan edukasi dan mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan potensi maupun kejadian karhutla," katanya.
Fokus Penyuluhan: Dampak Pembakaran Lahan dan Pelaporan Dini
Selama bertugas, para mahasiswa S-2 STIK akan berinteraksi langsung dengan warga di wilayah rawan. Materi penyuluhan yang dibawakan mencakup bahaya karhutla, dampak buruk pembakaran lahan terhadap lingkungan dan kesehatan, serta cara melakukan pencegahan sejak dini.
Polres Landak juga menyiapkan pendampingan dan koordinasi agar pelaksanaan tugas Satgas Edukasi berjalan efektif di lapangan. Pendampingan ini melibatkan jajaran pejabat utama Polres Landak, mulai dari Wakapolres Kompol Syaiful Bahri hingga para kasat.
AKBP Devi menekankan bahwa sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama menekan risiko karhutla di Kabupaten Landak.
"Harapan kami, sinergi ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Kabupaten Landak. Pencegahan lebih baik daripada penanganan setelah kebakaran terjadi. Karena itu, edukasi dan kesadaran masyarakat harus terus kita tingkatkan," pungkasnya.