Pencarian

BEI Perluas Daftar Saham Terkonsentrasi Jadi 51 Emiten, BREN hingga BYAN Masuk Daftar HSC Baru

Kamis, 16 Juli 2026 • 09:36:31 WIB
BEI Perluas Daftar Saham Terkonsentrasi Jadi 51 Emiten, BREN hingga BYAN Masuk Daftar HSC Baru
BEI resmi memperluas daftar saham terkonsentrasi menjadi 51 emiten, termasuk BREN dan BYAN, berdasarkan indikator price impact ratio terbaru.

KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan aturan terbaru yang diumumkan BEI, Selasa (14/7), saham-saham berkapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun kini akan dievaluasi setiap tiga bulan menggunakan indikator price impact ratio. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, indikator ini membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity—rasio rata-rata volume transaksi terhadap jumlah saham yang beredar di publik (free float).

"Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC," ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Jakarta.

Daftar 51 Emiten: Dari BREN, DCII, hingga BYAN

Emiten berkapitalisasi raksasa seperti Barito Renewables Energy (BREN), DCI Indonesia (DCII), Bayan Resources (BYAN), dan Bank Permata (BNLI) kini resmi menyandang status HSC. Nama lain yang masuk adalah Allo Bank Indonesia (BBHI) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA). Daftar ini berlaku bagi saham-saham yang masuk kategori sebelum 14 Juli 2026.

Status HSC menandakan bahwa mayoritas saham emiten tersebut dimiliki oleh segelintir pemegang saham atau kelompok afiliasi. BEI menerbitkan daftar ini untuk meningkatkan transparansi pasar dan meminimalkan potensi praktik spekulatif, sekaligus memenuhi standar investor global seperti MSCI dan S&P Dow Jones Indices.

Bukan Sinyal Bahaya, Tapi Indikator Risiko Tambahan

Founder Republik Investor Hendra Wardana menegaskan bahwa masuknya suatu saham ke dalam kategori HSC bukan berarti saham tersebut bermasalah atau tidak layak diinvestasikan. Menurutnya, investor tetap harus memilah antara konsentrasi kepemilikan dan fundamental perusahaan.

"HSC bukan berarti saham tersebut bermasalah atau tidak layak diinvestasikan. Bagi investor yang mengedepankan manajemen risiko, kategori HSC akan menjadi salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi, tetapi bukan satu-satunya faktor," kata Hendra.

Ia menambahkan, saham dengan fundamental kuat—seperti laba bersih yang solid, prospek bisnis jelas, dan tata kelola baik—tetap akan diminati meski masuk daftar HSC. Sebaliknya, saham dengan fundamental lemah berpotensi menghadapi tekanan sentimen yang lebih besar dari pasar.

Dampak ke Pergerakan Harga dan Volatilitas Jangka Pendek

Analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai metodologi baru ini berpotensi memicu volatilitas dalam jangka pendek akibat penyesuaian portofolio investor. Namun dalam jangka panjang, arah harga saham tetap ditentukan oleh kinerja fundamental perusahaan.

"HSC sebaiknya menjadi salah satu indikator risiko, sementara keputusan investasi tetap mengacu pada fundamental dan valuasi emiten," ujar Elandry.

Hendra sepakat bahwa status HSC tidak otomatis membuat harga saham turun atau naik. Dalam jangka pendek, volatilitas bisa meningkat karena investor institusi mungkin menyesuaikan alokasi aset mereka. Namun bagi investor ritel, kuncinya adalah tidak panik dan tetap berpegang pada analisis fundamental.

Langkah Positif untuk Kredibilitas Pasar Modal Indonesia

Hendra menilai penyempurnaan metodologi HSC merupakan langkah positif yang memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia. Kebijakan ini, kata dia, sejalan dengan masukan pengelola indeks global seperti MSCI dan S&P DJI yang kerap meminta transparansi lebih tinggi dari bursa emerging market.

"Pengetatan kriteria HSC merupakan langkah positif yang memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia dan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing pasar keuangan nasional di tingkat global," pungkas Hendra.

Investasi mengandung risiko. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor berdasarkan analisis independen masing-masing.

Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks