KALIMANTAN BARAT — Pekan lalu, Apple mengumumkan kenaikan harga yang signifikan untuk jajaran Mac, iPad, dan produk lainnya. Langkah ini dipicu oleh melonjaknya biaya komponen. Dampaknya langsung terasa: harga saham Apple sempat tertekan. Namun, memasuki akhir pekan menjelang libur 4 Juli, saham AAPL berhasil bangkit dengan penguatan 5 persen.
Target Produksi iPhone Lipat Ultra Naik 25 Persen
Katalis utama di balik rebound ini adalah laporan dari Nikkei Asia. Apple dikabarkan meminta pemasok untuk meningkatkan produksi model iPhone lipat varian Ultra. Awalnya, target produksi dipatok di angka 7-8 juta unit. Kini, angka tersebut dinaikkan menjadi sekitar 10 juta unit.
Kenaikan 25 persen ini dianggap sebagai sinyal kuat dari Cupertino. IDC memproyeksikan harga jual rata-rata ponsel lipat ini bisa mencapai 2.500 dolar AS (sekitar Rp 41,2 juta). Dengan volume produksi 10 juta unit, potensi pendapatan dari lini ini menjadi sangat signifikan.
Segmen Pro Tetap Jadi Tulang Punggung Penjualan
Meski menjadi perhatian utama, iPhone lipat Ultra masih akan menjadi produk niche. IDC memperkirakan total penjualan iPhone secara global pada 2026 mencapai 240 juta unit. Dari jumlah itu, 70-75 juta unit diprediksi berasal dari model iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max.
Adapun model reguler seperti iPhone 17 dan iPhone Air diperkirakan baru akan digantikan oleh iPhone 18 dan iPhone Air 2 pada musim semi 2027. Artinya, segmen Pro dan Ultra akan menjadi motor utama pertumbuhan Apple dalam dua tahun ke depan.
Optimisme Investor Bukan Cuma Soal Hardware
Faktor lain yang turut mendorong kepercayaan pasar adalah perkembangan asisten virtual Siri. Meski detailnya belum diungkap, rumor tentang peningkatan kemampuan Siri turut disebut-sebut sebagai alasan investor kembali optimis. Apple dipandang tengah bersiap menghadirkan gebrakan di sisi perangkat lunak untuk melengkapi lini hardware premiumnya.
Kombinasi antara target produksi tinggi untuk ponsel lipat ultra-premium dan potensi pembaruan Siri membuat Wall Street kembali melirik saham Apple. Bagi konsumen di Indonesia, kabar ini berarti kita bisa menantikan kehadiran iPhone lipat pertama Apple dalam jumlah yang lebih besar, meski dengan banderol harga yang pasti jauh di atas rata-rata ponsel flagship saat ini.