KALIMANTAN BARAT — Sejak beroperasi pada tahun 2020, Rumah BUMN Rembang tak sekadar menjadi tempat pelatihan. Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menjelaskan bahwa fasilitas ini dirancang sebagai inkubator bisnis berbasis desa yang terintegrasi. "UMKM memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi daerah dan pencipta lapangan kerja," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).
Pendekatan yang dilakukan berbeda dari program konvensional. Para pelaku UMKM tidak hanya diajari cara membuat produk, tetapi juga dibekali strategi memperluas akses pasar hingga memperkuat daya saing. Hasilnya, nilai transaksi yang terakumulasi mencapai nyaris Rp 7 miliar—angka yang signifikan untuk skala ekonomi sebuah kabupaten.
203 Program Pelatihan: Dari Branding hingga Digitalisasi
Untuk mencapai angka tersebut, RB Rembang telah menjalankan 203 program pelatihan hingga tahun ini. Materi yang diberikan mencakup pengembangan kualitas produk, standardisasi, digitalisasi usaha, penguatan branding, hingga strategi pemasaran. Pendampingan dilakukan secara komprehensif agar UMKM mampu menjawab tantangan pasar yang semakin kompetitif.
Vita menambahkan, inisiatif ini merupakan bagian dari strategi keberlanjutan SIG dalam menciptakan nilai bersama, atau creating shared value, bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. “Karena itu, SIG terus menghadirkan program pemberdayaan yang adaptif dan berkelanjutan agar UMKM dapat tumbuh lebih kompetitif,” katanya.
Dampak Langsung: 2.100 Lapangan Kerja Terserap
Dampak paling nyata dari program ini adalah penyerapan tenaga kerja. Lebih dari 2.100 warga lokal kini memiliki pekerjaan berkat ekosistem yang dibangun oleh Rumah BUMN. Angka ini menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM tidak hanya menguntungkan pemilik usaha, tetapi juga masyarakat luas di Rembang.
RB Rembang kini berkembang menjadi model pemberdayaan yang mengintegrasikan pembinaan usaha, jejaring kolaborasi, hingga akses pemasaran berbasis digital. Pendekatan ini sejalan dengan komitmen SIG untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat struktur ekonomi daerah berbasis potensi lokal.