KALIMANTAN BARAT — Perjalanan bisnis Tarnyu dimulai sekitar tahun 2004, saat ia pertama kali meminjam KUR BRI untuk modal membuka warteg di rumahnya di Jalan Gaharu I, dekat Pasar Cipete Selatan, Jakarta Selatan. Lokasi itu strategis: ramai dilalui pegawai kantoran dan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Cilandak Barat.
Dari warteg, usahanya berkembang. Ia menyewakan lapak depan rumah untuk warung rokok dan es kelapa yang kini dijalankan adiknya. Tarnyu tercatat beberapa kali meminjam KUR BRI. Pinjaman terakhirnya sekitar Rp25 juta pada 2022 dan sudah lunas.
Kehilangan, Lalu Bangkit dengan Catering
Namun, hidup Tarnyu berubah drastis. Suami dan satu anaknya meninggal dunia setelah pandemi Covid-19. Ia kini hanya tinggal bersama satu anak tersisa. Karena tak sanggup mengelola warteg sendirian—sebelumnya dibantu suami dan dua pembantu—ia menghentikan usaha warteg dua tahun lalu.
"Sudah dua tahunan enggak wartegan. Karena enggak ada yang bantuin sendirian sama satu anak, saya capek," tutur Tarnyu.
Alih-alih berhenti total, ia beralih ke bisnis catering. Selama setahun, ia rutin mengantar makanan ke kantor polisi. Catering itu baru berhenti setelah Presiden Prabowo dilantik, karena anggaran kepolisian untuk layanan tersebut tak tersedia.
"Akhirnya saya kerja daripada bengong. Karena kami biasa ada kesibukan, ketika enggak ada kesibukan itu enggak enak," cerita Tarnyu.
Bunga KUR yang Terjangkau Jadi Penyelamat
Tarnyu mengakui, BRI sangat membantunya. Bunga KUR yang kecil dan standar membuat pelaku usaha kecil seperti dirinya mampu mengangsur. "Enaknya bunganya enggak gede, kecil dan standar lah buat kami yang usaha kecil-kecilan seperti ini. Masih masuk," ujarnya.
Saat ini, ia mempertimbangkan untuk melakukan top-up pinjaman guna menekuni kembali bisnis catering. Pasalnya, para pelanggan lamanya masih kerap menanyakan kapan ia akan berjualan lagi.
Warung Tarnyu: Tempat Andalan Pekerja Lapangan
Bagi para pekerja di sekitar, warung Tarnyu bukan sekadar tempat makan. Rudi (41), petugas PPSU Kelurahan Cilandak Barat, mengaku warung ini menjadi andalan saat jam istirahat terbatas. "Di sini cepat, jadi aman kalau lagi tugas dan jam istirahat terbatas. Ke Warteg Bu Tarnyu karena makanannya rumahan dan harganya masih masuk buat pekerja lapangan," kata Rudi.
Hal serupa dirasakan Dipta (29), karyawan perkantoran di sekitar Pasar Cipete Selatan. "Kalau jam makan siang cari yang cepat, bersih, dan enggak bikin antre lama. Saya sudah langganan karena makanannya konsisten dan terasa seperti makan rumahan," ujarnya.
Kisah Tarnyu menjadi bukti bahwa akses pembiayaan mikro seperti KUR BRI bukan sekadar modal usaha, tapi juga jaring pengaman sosial bagi mereka yang kehilangan pencari nafkah utama. Di tengah keterbatasan, ia tetap berusaha bangkit—dari warteg, ke catering, dan mungkin suatu saat kembali ke dapur.