KUBU RAYA — Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, secara resmi membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) DPW Kalbar tahun 2026. Acara yang berlangsung di salah satu hotel di Kubu Raya pada Sabtu (13/6/2026) itu ditandai dengan pemukulan gong. Rakerwil ini disebut sebagai yang pertama dan tercepat digelar di tingkat provinsi di Indonesia.
“Selamat atas terselenggaranya Rapat Kerja Wilayah I ICDN Provinsi Kalbar. Sesuai arahan Ketua Umum tadi, sepertinya Kalbar yang tercepat, yang artinya Kalbar yang terbaik karena lebih dahulu menyelenggarakan Rakerwil,” ujar Krisantus dalam sambutannya.
ICDN Harus Jadi Nakhoda, Bukan Figuran
Dalam pidatonya, Wagub Kalbar secara tegas menyampaikan bahwa ICDN tidak boleh menjadi organisasi yang hanya menonton jalannya pembangunan. Ia mendorong para cendekiawan Dayak untuk tampil sebagai pelaku utama.
“Saya ingin ICDN menjadi pemeran utama, bukan hanya menjadi penonton tetapi menjadi nakhoda, menjadi pemeran utama, bukan pemeran figuran,” tegas Krisantus.
Ia menilai peluang dan tantangan yang dihadapi masyarakat Dayak saat ini harus dijawab dengan keberanian untuk berkompetisi. Menurutnya, ICDN memiliki sumber daya manusia yang kuat karena beranggotakan kaum intelektual yang siap pakai di pemerintahan, lembaga formal, maupun non-formal.
Pentingnya Literasi Digital di Era Globalisasi
Di hadapan para akademisi dan tokoh adat yang hadir, Krisantus juga menyoroti pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ia mengingatkan agar para intelektual Dayak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak di tengah arus globalisasi.
“Suka tidak suka, kita harus mengikuti perkembangan dunia komunikasi, informasi dan globalisasi yang sarat dengan teknologi. Saya yakin ICDN berisi orang-orang yang mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,” pungkasnya.
Wagub memperingatkan bahwa tanpa literasi digital yang baik, masyarakat rentan terpapar berita bohong, judi online, radikalisme, hingga penipuan. “Kualitas sumber daya manusia harus terus ditingkatkan agar teknologi benar-benar memberi manfaat,” pesannya.
Dorong Pengelolaan Biomassa Sawit untuk Energi Terbarukan
Krisantus juga mengajak ICDN untuk mengawal pemanfaatan sumber daya alam (SDA) Kalbar agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat daerah. Salah satu potensi yang ia soroti adalah pemanfaatan biomassa dari limbah kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan.
“Kalau batu bara suatu saat bisa habis karena tidak dapat diperbarui. Tetapi biomassa dari kelapa sawit berbeda, ini renewable, bisa terus diperbarui karena ada pohonnya. Saya ingin Kalbar memanfaatkan energi yang ada di Kalbar sendiri,” terangnya.
Ia mengungkapkan kebutuhan bahan baku biomassa di Kalbar hanya sekitar 60 ribu ton per bulan, jauh lebih kecil dibandingkan potensi produksi yang ada. “Produksi cangkang sawit kita sangat banyak dan ini harus menjadi nilai tambah bagi Kalbar,” jelasnya.
Pembukaan Rakerwil tersebut turut dihadiri Ketua Umum ICDN, Willy Midel Yoseph, Ketua DPW ICDN Kalbar, Heri Saman, serta unsur Forkopimda Kalbar, tokoh adat, dan akademisi dari berbagai daerah.