PONTIANAK — Kontes Arwana Internasional yang berlangsung di Kota Pontianak tidak hanya menjadi ajang adu keindahan ikan hias, tetapi juga panggung promosi untuk arwana super red asal Kalimantan Barat. Pemerintah daerah bersama para pembudidaya memanfaatkan event ini untuk memperkuat posisi ikan endemik tersebut di pasar global.
Mengapa Arwana Super Red Kalbar Butuh Panggung Internasional?
Arwana super red (Scleropages legendrei) merupakan salah satu komoditas unggulan Kalbar yang punya nilai ekonomi tinggi. Harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekor tergantung kualitas dan ukuran. Namun, selama ini penetrasi pasar luar negeri masih terkendala oleh promosi yang belum masif.
Kontes ini dihadiri pembudidaya dan kolektor dari Malaysia, Singapura, Thailand, hingga China. Mereka melihat langsung kualitas arwana super red yang dibudidayakan di Sentarum dan Kapuas Hulu.
Tiga Strategi Dorong Ekspor Arwana Kalbar
- Peningkatan kualitas indukan: Pemprov Kalbar mendorong sentra budidaya untuk menggunakan indukan bersertifikat agar warna merah dan postur tubuh ikan lebih konsisten.
- Percepatan sertifikasi CITES: Arwana termasuk ikan yang dilindungi perdagangan internasional. Sertifikasi dari otoritas terkait menjadi syarat mutlak agar bisa diekspor secara legal.
- Penguatan jejak pasar: Melalui kontes ini, pembudidaya lokal bisa menjalin kontak langsung dengan buyer luar negeri tanpa perantara.
Peran Pemprov Kalbar dalam Mendukung Pembudidaya
Dinas Perikanan dan Kelautan Kalbar menyebut pihaknya terus memfasilitasi pelatihan teknik budidaya dan manajemen pakan untuk meningkatkan produktivitas. Bantuan bibit unggul juga disalurkan ke kelompok pembudidaya di daerah penyangga seperti Landak dan Sanggau.
Selain itu, Pemprov mendorong pembentukan koperasi ekspor agar pembudidaya kecil tidak kesulitan memenuhi kuota pengiriman ke luar negeri.
Apa Dampaknya bagi Pembudidaya Lokal?
Bagi pembudidaya di Kalbar, kontes seperti ini membuka peluang harga jual yang lebih baik. Ikan yang pernah menang kontes biasanya dihargai lebih tinggi karena sudah terverifikasi kualitasnya oleh juri internasional.
Seorang pembudidaya dari Kabupaten Kubu Raya mengaku harga arwana super red ukuran 25 sentimeter miliknya naik 30 persen setelah ikan tersebut masuk final di ajang serupa tahun lalu.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski potensi pasar besar, pembudidaya masih mengeluhkan biaya sertifikasi CITES yang relatif mahal dan prosesnya memakan waktu. Belum semua pembudidaya kecil sanggup mengurusnya secara mandiri.
Pemprov Kalbar berjanji akan membuka layanan pendampingan administrasi ekspor di setiap kabupaten agar arwana super red Kalbar bisa bersaing dengan produk dari negara tetangga.