PONTIANAK — Keluhan kelangkaan solar bersubsidi kembali mencuat di Kalimantan Barat. Para sopir truk mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dugaan penimbunan yang dinilai menjadi biang keladi krisis pasokan di lapangan.
Antrean Panjang dan Waktu Tempuh Membengkak
Dalam sepekan terakhir, antrean kendaraan logistik terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di beberapa titik. Para sopir mengaku harus mengantre hingga berjam-jam hanya untuk mengisi solar subsidi yang kini sulit didapatkan.
Akibatnya, waktu tempuh pengiriman barang menjadi molor. Sejumlah pengemudi menyebut biaya operasional mereka justru membengkak karena harus memutar rute demi mencari SPBU yang masih menyediakan solar bersubsidi.
Mengapa Solar Subsidi Kian Langka?
Para sopir menduga praktik penimbunan oleh oknum tidak bertanggung jawab menjadi penyebab utama kelangkaan ini. Solar bersubsidi kerap disalahgunakan dengan cara dibeli dalam jumlah besar lalu dijual kembali dengan harga lebih tinggi ke industri atau pengecer ilegal.
Mereka meminta aparat kepolisian dan dinas terkait untuk melakukan pengawasan ketat. "Kami minta penegak hukum turun tangan, tangkap para penimbun yang selama ini merugikan rakyat kecil," ujar seorang sopir truk yang enggan disebutkan namanya, ditemui di salah satu SPBU di pinggiran Pontianak.
Fakta Singkat: Kelangkaan Solar di Kalbar
- Keluhan muncul dari para sopir truk lintas kabupaten di Kalimantan Barat.
- Antrean panjang terjadi di SPBU yang masih menjual solar bersubsidi.
- Dugaan penimbunan oleh oknum menjadi sorutan utama para pengemudi.
- Desakan aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan dan penindakan.
Penegak Hukum Diminta Bergerak Cepat
Kelangkaan solar bersubsidi bukan hanya soal antrean, tetapi juga berdampak pada rantai pasok logistik daerah. Jika tidak segera diatasi, harga barang kebutuhan pokok di Kalimantan Barat berpotensi naik karena biaya distribusi yang membengkak.
Pemerintah daerah dan aparat keamanan diharapkan segera berkoordinasi. Langkah tegas terhadap praktik penimbunan BBM bersubsidi dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen.