Pencarian

Google dan Amazon Gunakan Pipa Minyak Irak Amankan Koneksi Internet Global

Jumat, 01 Mei 2026 • 06:58:35 WIB
Google dan Amazon Gunakan Pipa Minyak Irak Amankan Koneksi Internet Global
Google dan Amazon gunakan kabel serat optik sejajar pipa minyak Irak untuk amankan koneksi internet global.

Raksasa teknologi dunia atau yang sering disebut sebagai hyperscalers kini punya cara baru untuk menjaga data Anda tetap aman dan cepat. Amazon, Google, Meta, dan Microsoft dilaporkan mulai mengalihkan lalu lintas data mereka melalui jalur darat di Irak. Menariknya, kabel serat optik ini ditanam sejajar dengan pipa minyak mentah milik pemerintah Irak.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Selama ini, sebagian besar data internet yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa bergantung pada kabel bawah laut di Laut Merah dan Selat Hormuz. Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman sabotase di wilayah perairan tersebut membuat perusahaan teknologi harus mencari jalan pintas yang lebih aman.

Martin Frank, penasihat strategis di IQ Networks—perusahaan yang membangun jaringan tersebut—mengonfirmasi bahwa hampir semua pemain besar di industri cloud telah membeli kapasitas di rute Irak ini. "Sebagian besar, jika tidak semua hyperscalers, telah membeli kapasitas di rute Irak," ujarnya kepada Rest of World.

Menghindari Dampak Perang dan Gangguan Massal

Kebutuhan akan jalur alternatif ini semakin mendesak setelah insiden pada 1 Maret lalu. Saat itu, fasilitas Amazon di Uni Emirat Arab dan Bahrain mengalami gangguan akibat serangan drone. Dampaknya sangat terasa bagi pengguna layanan digital di kawasan tersebut.

Aplikasi perbankan besar seperti Abu Dhabi Commercial Bank mendadak berhenti berfungsi. Platform pembayaran dan pengiriman online ikut tumbang. Bahkan Snowflake, perusahaan perangkat lunak asal AS yang digunakan ribuan bisnis global, melaporkan gangguan layanan yang terkait langsung dengan masalah pada Amazon Web Services (AWS) tersebut.

Kareem Arshad, seorang konsultan keuangan di UEA, menceritakan pengalamannya saat mencoba mentransfer uang namun gagal total karena aplikasi bank tidak bisa diakses. "Sangat membuat stres dan membuang waktu. Saya sempat mengira masalahnya hanya ada pada akun saya," tuturnya. Insiden seperti inilah yang ingin dihindari oleh raksasa teknologi dengan mendiversifikasi jalur kabel mereka.

Keunggulan Jalur Pipa Minyak: Aman dan Cepat

Mengapa harus lewat pipa minyak? Jawabannya adalah keamanan dan kemudahan infrastruktur. Pipa minyak dan gas biasanya sudah memiliki parameter keamanan yang ketat, jalan akses khusus, dan koridor pemeliharaan yang sudah terbangun. Hal ini memungkinkan perusahaan telekomunikasi memasang kabel serat optik tanpa harus menggali parit baru di medan yang sulit.

IQ Networks, yang berbasis di wilayah Kurdistan Irak, telah membangun rute ini sejak 2010. Jaringan mereka membentang dari ujung selatan Irak hingga perbatasan Turki. Saat ini, mereka sedang memperluas jaringan melalui koridor pipa gas di Turki menuju perbatasan Eropa, yang diharapkan selesai pada awal tahun depan.

Selain faktor keamanan, rute darat Irak menawarkan keunggulan teknis yang luar biasa: kecepatan. Berikut adalah perbandingannya:

  • Latensi Jalur Kabel Laut: Sekitar 150 milidetik (ms) untuk perjalanan dari Teluk ke Eropa.
  • Latensi Jalur Darat Irak: Hanya sekitar 70 milidetik (ms).
  • Kapasitas Saat Ini: Mampu mengalirkan data setara dengan 400.000 video kualitas HD secara bersamaan.
  • Kontrol Penuh: Perusahaan bisa membeli dark fiber untuk kontrol keamanan mandiri.

Apa Artinya bagi Pengguna Internet di Indonesia?

Meskipun jalur ini berada di Timur Tengah, dampaknya terasa hingga ke Indonesia. Banyak layanan digital yang kita gunakan sehari-hari, mulai dari aplikasi perbankan, platform e-commerce, hingga layanan streaming, menggunakan infrastruktur cloud dari AWS, Google Cloud, atau Microsoft Azure yang saling terhubung secara global.

Stabilitas jalur data di Timur Tengah memastikan bahwa layanan yang memiliki basis data di wilayah tersebut atau yang melewati jalur tersebut menuju Eropa tetap stabil. Latensi yang lebih rendah (70ms vs 150ms) sangat krusial untuk transaksi finansial real-time, panggilan video yang lancar, dan aplikasi sensitif waktu lainnya.

Selain itu, langkah ini menunjukkan tren baru di mana perusahaan teknologi tidak lagi mau bergantung pada satu jalur tunggal. "Perusahaan yang memindahkan volume data besar akan membutuhkan beberapa rute independen melalui Timur Tengah, bukan hanya satu," kata Bertrand Clesca dari Pioneer Consulting.

Dengan adanya rute "Silk Route Transit" ini, risiko gangguan internet massal akibat kabel laut yang putus atau konflik bersenjata di perairan internasional bisa diminimalisir. Bagi kita di Indonesia, ini berarti layanan digital yang lebih tangguh dan jarang mengalami down akibat gangguan infrastruktur global.

Bagikan
Sumber: restofworld.org

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks