PONTIANAK — Bursa Wirausaha Unggulan Kalimantan Barat 2026 mempertemukan mahasiswa, dosen, dan pelaku usaha dalam satu forum di Auditorium Universitas Tanjungpura. Salah satu sesi yang paling disorot adalah talkshow "Asrama Berdampak: Dari Masalah Sehari-hari Menjadi Ide, Aksi, dan Peluang" yang dibawakan Ketua Pengelola Rusunawa dan Asrama UNTAN, Dr. Muhammad Fahmi, S.E., M.M.Ak.
Fahmi menilai asrama mahasiswa punya fungsi yang jauh lebih luas dari tempat tinggal selama menempuh pendidikan. Menurutnya, asrama bisa menjadi laboratorium kehidupan untuk membangun karakter, mengasah keterampilan, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
Konsep Asrama Berdampak diwujudkan lewat kegiatan produktif yang memanfaatkan lahan dan potensi sekitar asrama. Fahmi menyebut sejumlah contoh yang bisa dijalankan mahasiswa, mulai dari pembuatan kolam lele, budidaya ikan, penanaman melon dan pepaya, pengembangan kebun sayuran, hingga pembibitan buah-buahan.
Gagasan itu, kata dia, terinspirasi dari permainan Hay Day yang menggambarkan pengelolaan sumber daya menjadi kegiatan produktif. Prinsip serupa diterapkan di kehidupan nyata dengan mengoptimalkan potensi lingkungan asrama agar manfaatnya lebih luas.
"Kita mulai dari asrama, kita tumbuh untuk Indonesia," ujar Fahmi dalam sesi tersebut.
Ia menekankan mahasiswa perlu dibekali keterampilan praktis, bukan hanya pencapaian akademik. Bekal itu diharapkan membuat mereka berkontribusi nyata bagi masyarakat, termasuk saat kembali ke kampung halaman untuk membangun desa.
Fahmi juga mendorong terbangunnya ekosistem kewirausahaan yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan praktisi. Kolaborasi itu dinilai penting agar pembelajaran tidak berhenti di tataran teori, tetapi berlanjut ke praktik, pengembangan produk, kemitraan, hingga hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah.
"Harapannya, asrama bisa menjadi tempat mahasiswa mengembangkan talenta dan keterampilannya. Apa yang awalnya sederhana dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Dari ekosistem itu, Fahmi berharap lahir mahasiswa yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga berani menciptakan peluang usaha dan membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
Selain materi asrama, forum menghadirkan Owner Montibif Beef Roti, Meriani Anengsi, dalam sesi panel diskusi "Dari Langkah Digital, Menjadi Lompatan Usaha". Ia membagikan pengalaman membangun usaha dari skala kecil hingga mampu mempekerjakan karyawan.
Meriani mengawali usaha dengan memproduksi dan menjual produk bersama sang ibu. Penjualan awal dilakukan secara sederhana di pinggir jalan. Seiring perkembangan, pemanfaatan platform digital seperti GrabFood membuka peluang menjangkau konsumen lebih luas.
Ia juga memakai Instagram, TikTok, serta fitur siaran langsung untuk memperkenalkan produk kepada calon pelanggan. Menurut Meriani, pelaku UMKM perlu terus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.
Strategi pemasaran seperti paket bundling atau penggabungan beberapa produk dalam satu penawaran, serta penyajian foto produk yang menarik, dinilai dapat meningkatkan daya tarik dan peluang penjualan. Pengalamannya menunjukkan perkembangan usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar.
Konsistensi menjaga kualitas produk, keberanian mencoba saluran pemasaran baru, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar menjadi bagian penting dalam perjalanan membangun bisnis.
Narasumber dari MWX Indonesia, Kreshna Manggala Putra, membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam materi "Optimalkan AI, Perkuat Brand, Ciptakan Konten yang Memikat". Ia menjelaskan tiga aspek penting dalam pengembangan bisnis melalui teknologi, yakni riset, penguatan merek (branding), dan pengembangan konten.
Rangkaian materi itu melengkapi tema besar bursa wirausaha: mendorong mahasiswa dan pelaku usaha memanfaatkan teknologi sebagai peluang memperluas pasar dan meningkatkan daya saing. Kegiatan di UNTAN menjadi ruang tumbuh bagi wirausaha muda yang inovatif dan adaptif di era digital.