KAYONG UTARA — Seekor orangutan yang diduga terluka memasuki kawasan persawahan dan mendekati pemukiman warga di Desa Sungai Sepeti, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (17/4) sore dan langsung dilaporkan oleh warga kepada petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, orangutan tersebut terlihat berjalan tertatih-tatih di pematang sawah dengan kondisi fisik yang tidak prima. Warga yang melihat langsung mengaku khawatir jika satwa tersebut akan memasuki area permukiman yang hanya berjarak puluhan meter dari lokasi kejadian.
Dari jarak pandang warga, bagian tubuh orangutan itu tampak ada luka terbuka di beberapa titik. "Kami lihat dia jalannya pincang. Mungkin kena jerat atau berkelahi dengan orangutan lain," ujar seorang warga setempat yang enggan disebut namanya.
Petugas BKSDA yang tiba di lokasi langsung melakukan observasi awal dan mengamankan area sekitar. Mereka belum bisa memastikan penyebab pasti luka pada satwa tersebut sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kemunculan orangutan di area pertanian dan permukiman warga di Kalimantan Barat bukanlah kali pertama. Dalam dua tahun terakhir, kasus serupa terjadi di beberapa titik di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang. Fragmentasi hutan akibat alih fungsi lahan menjadi salah satu pemicu utama.
BKSDA Kalbar mencatat, sejak 2023 hingga awal 2025, setidaknya ada 12 laporan konflik orangutan-manusia di wilayah pesisir Kalimantan Barat. Sebagian besar kasus berakhir dengan evakuasi satwa ke pusat rehabilitasi.
Tim medis dari BKSDA bersama dokter hewan dari yayasan konservasi setempat direncanakan akan melakukan penanganan darurat di lokasi. Jika kondisi orangutan dinilai tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali, satwa tersebut akan dibawa ke pusat rehabilitasi orangutan di Ketapang.
Warga diimbau untuk tidak mendekati atau mencoba menangkap sendiri satwa tersebut. "Orangutan adalah satwa liar yang dilindungi. Jika terluka, mereka bisa bersikap agresif karena stres," kata petugas BKSDA di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, tim BKSDA masih berada di lokasi untuk memastikan orangutan tersebut tidak kembali mendekati permukiman. Warga diminta tetap waspada dan segera melapor jika melihat pergerakan satwa liar di sekitar lingkungan tempat tinggal.