KALIMANTAN BARAT — Indeks Bovespa ditutup ambruk 13,9% pada perdagangan Senin (26/10/2026), penurunan harian terbesar sejak Maret 2020. Nilai tukar real ikut terdepresiasi 8,1% ke level 5.415 per dolar AS, penurunan harian terburuk setidaknya sejak 2002.
Kemenangan Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil memicu gelombang aksi jual di seluruh kelas aset. Hasil yang mengejutkan itu membalikkan posisi investor yang sebelumnya bertaruh pada kandidat sayap kanan, Flavio Bolsonaro.
Tekanan tidak berhenti di pasar saham. Real sempat melemah lebih dari 11% terhadap dolar AS di awal perdagangan sebelum menutup sesi turun 8,1% ke 5.415 per dolar AS.
Circuit Breaker Aktif, Perdagangan Bursa Dihentikan 30 Menit
Operator bursa B3 menghentikan perdagangan selama 30 menit setelah indeks Bovespa anjlok 10% dari penutupan sebelumnya. Penghentian mengacu pada mekanisme circuit breaker otomatis.
Indeks acuan Bovespa berakhir di posisi 13,9% lebih rendah, menandai koreksi harian paling dalam dalam lebih dari lima tahun terakhir.
Obligasi Pemerintah Ikut Dijual, CDS Melebar ke 144 Basis Poin
Pasar obligasi pemerintah Brasil juga menjadi sasaran aksi jual. Obligasi bertenor panjang paling terpukul, dengan imbal hasil surat utang jatuh tempo 2054 naik menjadi 7,45%.
Biaya asuransi risiko gagal bayar utang pemerintah yang tercermin dalam credit default swaps (CDS) tenor lima tahun melebar menjadi 144 basis poin, dari 120 basis poin pada penutupan Jumat.
Di tengah gejolak, Kementerian Keuangan Brasil membatalkan lelang obligasi pemerintah yang dijadwalkan 27 Oktober serta lelang obligasi berbunga tetap pada 29 Oktober.
Investor Menilai Ulang Prospek Fiskal Masa Jabatan Keempat
Ekonom Senior Amerika Latin Oxford Economics, Mauricio Monge, menyebut pasar sedang mengoreksi asumsi fiskal mereka terhadap pemerintahan Lula yang akan datang.
"Kemenangan Lula memicu aksi jual tajam di pasar karena investor menilai kembali prospek fiskal pada masa jabatan keempatnya," kata Monge dalam laporannya, dikutip dari Reuters.
Kekhawatiran utama menyangkut arah belanja negara dan disiplin anggaran pada periode pemerintahan berikutnya. Pasar obligasi biasanya menjadi kanal pertama yang mencerminkan ekspektasi itu.
Dampak ke Investor Indonesia dan Aset Emerging Market
Gejolak Brasil menjadi sinyal risiko bagi pemegang aset di pasar berkembang. Pelemahan real yang tajam dapat mendorong investor global meninjau ulang alokasi portofolio di kawasan Amerika Latin.
Bagi investor domestik, tekanan ini berpotensi memengaruhi sentimen terhadap obligasi negara berkembang dan mata uang emerging market, termasuk rupiah, terutama bila arus keluar dana asing berlanjut.
Skala penurunan Bovespa yang mencapai dua digit dalam satu sesi menempatkan Brasil sebagai episodik volatilitas terbesar di pasar saham global tahun ini. Pelaku pasar akan mencermati langkah pemerintahan baru dalam menyusun kerangka fiskal sebagai penentu arah pemulihan aset Brasil.