SAMBAS — Erlina Ria Norsan menekankan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca. Menurutnya, literasi mencakup pemahaman terhadap informasi, kemampuan berpikir kritis, serta kecakapan membedakan informasi yang benar dan salah.
"Literasi bukan sekadar membaca, tetapi memahami informasi, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang baik," ujarnya di hadapan peserta Pekan Gemar Membaca.
Literasi Digital Jadi Kunci di Tengah Arus Informasi Cepat
Kemudahan memperoleh informasi melalui media digital, kata Erlina, harus diimbangi kemampuan masyarakat dalam mengakses, memahami, dan memanfaatkannya secara bijak. Generasi muda saat ini dihadapkan pada arus informasi yang begitu cepat dan beragam.
Penguatan literasi digital dinilainya penting agar anak-anak dan remaja tidak mudah terpengaruh berita bohong atau hoaks. Teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana memperluas wawasan, mendukung proses belajar, dan mendorong kreativitas.
Rumah sebagai Pendidikan Pertama Anak
Erlina mengajak keluarga dan para kader PKK membangun kebiasaan membaca sejak usia dini. Pendampingan juga perlu menyentuh pemahaman terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Pendidikan pertama seorang anak dimulai dari rumah. Melalui gerakan PKK, kita dapat membiasakan membaca bersama anak, menyediakan pojok baca sederhana, dan mendampingi mereka menggunakan teknologi," ungkapnya.
Ia berharap kader PKK mengambil peran sebagai penggerak budaya literasi hingga ke tingkat desa. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui kelompok dasawisma, posyandu, pendidikan anak usia dini (PAUD), serta berbagai kelompok kegiatan masyarakat.
Konsistensi Keluarga Lebih Menentukan daripada Fasilitas
Keberhasilan gerakan literasi, menurut Erlina, tidak semata-mata ditentukan ketersediaan buku atau fasilitas membaca. Konsistensi keluarga dalam membangun kebiasaan membaca dan menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk belajar dinilainya sama penting.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kegiatan sesaat dalam sebuah program.
"Kalau membaca sudah menjadi kebiasaan di rumah, insyaallah budaya literasi akan tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan keluarga," pungkasnya.
Melalui Pekan Gemar Membaca, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi semakin meningkat. Keluarga diharapkan menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang kritis, cerdas, kreatif, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi.