PONTIANAK — Moderasi beragama di Kalimantan Barat dinilai perlu terus dirawat melalui toleransi, dialog, penghormatan terhadap kearifan lokal, komitmen kebangsaan, serta pencegahan kekerasan. Empat dimensi itu menjadi fokus FKUB Kalbar dalam membangun kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.
Zulkifli menegaskan moderasi beragama bukan berarti bersikap netral terhadap seluruh persoalan keagamaan. Menurutnya, moderasi adalah upaya memahami agama secara berimbang dan menghindari sikap ekstrem.
"Moderasi beragama bermakna memahami agama secara berimbang. Moderat itu artinya tengah," ujar Zulkifli dalam dialog tersebut.
Dialog Lintas Agama Harus Menjangkau Generasi Muda
Dimensi pertama yang ditekankan FKUB Kalbar adalah toleransi dan dialog interkultural serta interreligius. Dialog dinilai tidak cukup hanya dilakukan antartokoh agama, tetapi harus menjangkau masyarakat hingga generasi muda.
FKUB Kalbar telah melibatkan generasi Z, pelajar, dan mahasiswa dalam forum dialog lintas agama. Langkah itu dinilai penting untuk membangun pemahaman dan interaksi antarkelompok sejak dini.
Robo-Robo hingga Gawai Dayak Jadi Ruang Perjumpaan
Dimensi kedua adalah akomodasi terhadap kearifan lokal. Kalbar memiliki beragam tradisi dan budaya yang dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat lintas agama dan etnis.
Zulkifli mencontohkan tradisi Robo-Robo, Imlek, Cap Go Meh, hingga Gawai Dayak. Berbagai kegiatan tersebut kerap menjadi ruang masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berinteraksi dan berbaur.
"Kearifan lokal itu menjadi ruang untuk kita bertemu, berdialog, berinteraksi antarberbagai elemen bangsa. Karena itu kita harus mengakomodasi dan memelihara kearifan lokal ini," katanya.
Komitmen Kebangsaan Cegah Polarisasi Sosial
Dimensi ketiga adalah komitmen kebangsaan dan kerukunan sosial. Zulkifli menilai nilai-nilai agama perlu berjalan selaras dengan nilai kebangsaan, termasuk Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Komitmen kebangsaan disebut menjadi salah satu fondasi penting untuk mencegah polarisasi sosial sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Literasi Digital dan Tantangan Konten AI
Dimensi keempat adalah anti kekerasan dan pencegahan radikalisme. Perkembangan teknologi informasi membuat masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memiliki kemampuan literasi digital yang kuat.
Zulkifli mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan informasi yang diterima melalui media sosial.
"Saring sebelum sharing. Itu yang harus kita lakukan," ucapnya.
Ia menilai moderasi beragama bukan kondisi yang cukup dicapai sekali lalu dianggap selesai. Pemahaman tersebut harus terus dipelihara karena masyarakat setiap hari berhadapan dengan beragam informasi, termasuk konten yang berpotensi mendorong pemahaman ekstrem.
"Meningkatkan moderasi beragama ini adalah proses yang tidak pernah selesai yang harus selalu kita lakukan," ujarnya.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI juga menjadi tantangan baru. Zulkifli menilai ruang digital perlu diisi dengan informasi keagamaan yang moderat agar masyarakat memiliki lebih banyak rujukan yang dapat memperkaya pemahaman mereka.
"Kaum moderat jangan diam, tapi kita harus aktif seaktif-aktifnya untuk mengisi ruang-ruang di berbagai platform media sosial dengan informasi dan tulisan-tulisan yang moderat," ujarnya.
Jaga Hubungan Baik Lintas Agama
Zulkifli juga menekankan pentingnya interaksi antarmasyarakat yang berbeda agama. Hubungan sosial, menurutnya, dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat kerukunan dan membangun rasa persaudaraan sebagai sesama warga bangsa maupun sesama manusia.
Menutup dialog, ia mengajak masyarakat memperdalam pemahaman terhadap agama masing-masing, menyaring informasi sebelum membagikannya, serta menjaga hubungan baik dengan siapa pun.
"Selalulah kita menyaring informasi sebelum di-share. Kemudian selalu jaga hubungan baik dengan siapa saja. Karena kita ini bersaudara," katanya, mengakhiri.