KALIMANTAN BARAT — Departemen Pertahanan Amerika Serikat menunjuk Elon Musk memimpin Project Meridian, inisiatif 120 hari untuk memetakan teknologi dan senjata yang dibutuhkan militer AS menghadapi perang masa depan. Musk akan didampingi pendiri Anduril Palmer Luckey dan mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich, bekerja di bawah arahan CTO Pentagon Emil Michael. Proyek ini menyasar domain mulai dari Bumi hingga Bulan, dengan implikasi langsung ke rantai pasok teknologi pertahanan global.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Project Meridian bukan soal menyusun strategi atau kebijakan baru. Fokusnya adalah mengidentifikasi domain yang harus dikuasai militer AS dan kemampuan yang perlu dimiliki untuk mempertahankannya.
Penunjukan tiga tokoh tanpa latar belakang militer ini menandai pergeseran cara Pentagon mendekati teknologi pertahanan. Musk, Luckey, dan Gingrich membawa perspektif dari sektor swasta, industri pertahanan, dan politik.
Apa Itu Project Meridian
Project Meridian adalah inisiatif baru Departemen Pertahanan AS yang bertugas mempelajari kemampuan, teknologi, dan senjata yang dibutuhkan militer AS menghadapi perang di masa depan. Proyek ini diberi waktu 120 hari untuk menganalisis bagaimana perang dapat berubah dalam beberapa tahun hingga dekade ke depan.
Tim pelaksana terdiri dari orang-orang dari sektor pemerintah, industri, dan akademisi. Seluruhnya bekerja di bawah arahan CTO Pentagon Emil Michael. Hasil kajian akan menjadi dasar bagi Pentagon menentukan prioritas pengembangan senjata dan sistem pertahanan.
Fokus: dari Bumi hingga Bulan
Hegseth menyebut inisiatif ini akan fokus pada penemuan, pengembangan, dan pengerahan senjata serta sistem yang mungkin dibutuhkan prajurit AS di medan perang. Cakupannya tidak terbatas pada darat, laut, dan udara, tetapi juga ruang angkasa hingga Bulan.
"Project Meridian, masa depan peperangan, bukanlah tentang mengembangkan strategi baru atau kebijakan baru," kata Hegseth, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (3/10/2026).
"Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi domain yang harus kita taklukkan dan kemampuan yang harus kita kuasai," sambungnya.
Tiga Pemimpin Tanpa Pengalaman Militer
Musk, Luckey, dan Gingrich tidak memiliki pengalaman militer. Musk pernah pindah dari Afrika Selatan ke Kanada untuk menghindari wajib militer. Luckey dikenal sebagai entrepreneur teknologi pertahanan, sedangkan Gingrich merupakan politisi.
Meski begitu, Musk dan Luckey punya hubungan erat dengan militer AS. SpaceX, perusahaan milik Musk, memegang sejumlah kontrak dengan Pentagon, termasuk kontrak senilai USD 4,16 miliar untuk membangun satelit yang dirancang melacak ancaman di udara.
Anduril, perusahaan teknologi pertahanan yang didirikan Luckey, mengembangkan senjata otonom dan teknologi militer lainnya. Pada 2025, Korps Marinir AS memberikan kontrak senilai USD 642 juta kepada Anduril untuk mengembangkan sistem anti-drone.
Implikasi bagi Industri Pertahanan
Penunjukan Musk dan Luckey menempatkan dua pemain swasta yang sudah menjadi vendor Pentagon ke posisi penentu arah pengadaan teknologi. SpaceX dan Anduril sama-sama memiliki kepentingan bisnis di sektor yang akan dikaji Project Meridian.
Bagi industri pertahanan global, arah rekomendasi Project Meridian berpotensi menggeser prioritas anggaran Pentagon dalam beberapa tahun ke depan. Perusahaan teknologi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang ingin masuk rantai pasok komponen pertahanan perlu mencermati sinyal ini.
Kajian 120 hari Project Meridian menjadi penanda bagaimana Pentagon mendekatkan diri ke model inovasi sektor swasta, alih-alih siklus pengadaan militer konvensional yang lebih lambat.