Pencarian

Pontianak Biennale 2026 Hadirkan 41 Seniman Lintas Negara, Angkat Isu Sungai dan Karhutla

Minggu, 27 September 2026 • 06:02:01 WIB
Pontianak Biennale 2026 Hadirkan 41 Seniman Lintas Negara, Angkat Isu Sungai dan Karhutla
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meninjau karya seni pada pembukaan Pontianak Biennale 2026 di Port 99.

PONTIANAK — Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai karya yang dipamerkan dalam Pontianak Biennale 2026 tidak sekadar menjadi ekspresi seni. Menurutnya, karya-karya tersebut juga merefleksikan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat Kalimantan Barat.

Pembukaan pameran berlangsung di Port 99 pada Jumat (26/9/2026) malam. Kegiatan ini digelar secara urundaya dan swakelola dengan melibatkan institusi, lembaga, organisasi, kolektif, komunitas, hingga individu.

Seniman dari 11 Negara Ikut Berpartisipasi

Peserta Pontianak Biennale 2026 datang dari Malaysia, Singapura, Hong Kong, Inggris, India, Belanda, Kroasia, San Marino, Jepang, Vietnam, dan Thailand. Kehadiran mereka dinilai menunjukkan jejaring seni Pontianak semakin terbuka.

"Ini bentuk sinergi seniman yang tidak hanya dari Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga dari Pulau Jawa bahkan mancanegara, seperti Singapura, Kroasia, Malaysia, dan Brunei," ujar Edi.

Karya soal Sungai Kapuas hingga Bencana Asap

Sejumlah karya yang ditampilkan mengangkat suara alam, Sungai Kapuas, hingga hubungan manusia dengan hutan. Edi menyebut karya-karya itu memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung.

"Di tengah kondisi bencana asap, kita tidak berhenti berkreasi dan berinovasi. Para seniman juga menyampaikan perasaannya terhadap alam. Banyak karya berbicara tentang sungai, kebakaran lahan, dan bagaimana kita perlu menjaga keseimbangan hidup," katanya.

Menurut Edi, tampilan video visual, sculpture, maupun lukisan dalam pameran ini menggambarkan sesuatu yang menginspirasi. Ia menilai karya-karya tersebut bukan sesuatu yang biasa dilihat di ruang umum.

Ruang Seni Diusulkan Diperluas ke Taman Kota

Edi berharap Pontianak Biennale tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan di satu lokasi. Ruang seni ke depan bisa diperluas ke taman kota, ruang publik, dan kawasan terbuka agar semakin dekat dengan masyarakat.

Ia juga membuka peluang kolaborasi seniman dalam rencana pengembangan SD Negeri 14 sebagai museum. Bangunan tersebut merupakan salah satu cagar budaya Kota Pontianak.

"Tahun depan kita akan merehab SD 14 yang merupakan cagar budaya Kota Pontianak dan akan kita jadikan museum. Nanti kita ingin bekerja sama dengan teman-teman seniman untuk membantu mempresentasikan museum itu sehingga bisa bercerita tentang kondisi Kota Pontianak sejak awal hingga hari ini," ujarnya.

Rangkaian Acara hingga 25 Oktober 2026

Perwakilan Pontianak Biennale 2026 Gusti Enda menjelaskan tema "Arus Pertemuan dan Gelombang" menggambarkan Pontianak dan Kalimantan Barat sebagai ruang pertemuan berbagai arus peradaban, budaya, migrasi, dan perdagangan.

Sungai digunakan sebagai metafora karena sejak lama menjadi jalur pertemuan manusia, kebudayaan, pengetahuan, dan peradaban.

Selain di Port 99, sejumlah kegiatan digelar di Pasar Tradisional Purnama, SD Negeri 14, Tempias Kopi Banjar Serasan, serta sejumlah ruang komunal lainnya. Rangkaian kegiatan meliputi pameran seni rupa kontemporer, konferensi dan forum, Dapok Warge, Beranda Sinema, tur budaya dan sejarah "Pontianak Punye Cerite", Bukumpul Library, hingga Kids Corner.

"Kami ingin Pontianak Biennale menjadi ruang yang terus tumbuh, membuka dialog, dan mempertemukan banyak pihak. Dari pertemuan-pertemuan itu, mudah-mudahan muncul gelombang baru bagi perkembangan seni dan kebudayaan di Pontianak," pungkas Gusti Enda.

Follow radarsambas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jurnalis.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks