KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan pantauan pukul 09.00 WIB, BCA mematok harga jual dolar AS di Rp 16.375 per dolar AS dan harga beli di Rp 15.925. Angka ini menjadikan BCA sebagai bank dengan spread termurah untuk transaksi tunai. Di sisi lain, Bank Mandiri memasang harga jual tertinggi di Rp 16.450, dengan harga beli Rp 15.900. Selisih Rp 75 per dolar AS antara BCA dan Mandiri ini bisa berarti tambahan biaya Rp 750.000 untuk setiap transaksi US$ 10.000.
Adapun BRI menawarkan kurs jual Rp 16.425 dan kurs beli Rp 15.925, sementara BNI membuka di level Rp 16.400 untuk jual dan Rp 15.900 untuk beli. Pola ini menunjukkan bahwa bank dengan jaringan kantor cabang terluas cenderung mematok spread lebih besar untuk menutup biaya operasional tunai.
e-Rate Lebih Kompetitif, BRI Paling Agresif
Bagi nasabah yang bertransaksi lewat mobile banking, situasinya berbeda. BRI tercatat menawarkan kurs jual paling agresif di Rp 16.350 dan kurs beli Rp 16.200, dengan spread hanya Rp 150. BCA dan BNI sama-sama mematok kurs jual Rp 16.375, namun BCA unggul di sisi beli dengan Rp 16.200 berbanding Rp 16.175 milik BNI. Mandiri masih menjadi yang termahal dengan kurs jual Rp 16.400 dan beli Rp 16.175.
Perbedaan ini penting dicatat oleh importir atau pelaku UMKM yang rutin membayar tagihan luar negeri. Memilih bank dengan e-rate terendah — dalam hal ini BRI — bisa menghemat biaya hingga Rp 50 per dolar AS dibandingkan Mandiri.
Mengapa Rupiah Stagnan?
Pergerakan kurs yang nyaris flat pagi ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar. Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan pada pekan lalu sempat mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama. Imbasnya, dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Bank Indonesia sendiri diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 6,00% pada RDG bulan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kombinasi antara ekspektasi suku bunga global yang tinggi dan kebijakan domestik yang ketat membuat rupiah bergerak dalam rentang sempit, antara Rp 16.000 hingga Rp 16.500 per dolar AS dalam dua pekan terakhir.
Bagi Anda yang berencana menukar valas dalam jumlah besar, para analis menyarankan untuk memanfaatkan momen pelemahan dolar AS sementara jika data inflasi AS yang akan dirilis Jumat (22/5) lebih rendah dari perkiraan. Sebaliknya, jika data menunjukkan tekanan harga masih tinggi, dolar AS berpotensi kembali merangkak naik.