KUBU RAYA — Salma, warga Kabupaten Kubu Raya, mengaku belum pernah menyaksikan kebakaran sebesar tahun ini selama 15 tahun tinggal di wilayah tersebut. Api bahkan merambat mendekati permukiman hingga ia terpaksa mengungsi karena khawatir rumahnya ikut dilalap.
"Saya sudah tinggal di sini selama 15 tahun. Saya belum pernah mengalami kebakaran seperti ini sebelumnya," kata Salma kepada Al Jazeera.
Bagi warga yang sehari-hari sibuk mencari nafkah, karhutla menambah pekerjaan yang tidak pernah mereka minta: menghindari asap, membersihkan abu, dan memastikan rumah tidak ikut terbakar.
Siti Zahra, ibu dua anak, harus berulang kali membawa buah hatinya ke fasilitas kesehatan. Keluhan yang muncul meliputi demam, batuk, sakit perut, dan pilek.
Dalam sebulan, anak-anaknya sudah tiga kali sakit yang menurutnya berkaitan dengan asap, abu, kekeringan, dan kebakaran. Ia pun membatasi anak-anak bermain di luar rumah karena khawatir dampak jangka panjang.
"Semua tertutup abu. Saya harus menyapu setiap hari. Bahkan setelah disapu, abu kembali muncul," tutur Siti.
Dokter Muhammad Arief Trihapsoro dari Klinik Kesehatan Sungai Durian menyebut keluhan batuk dan radang tenggorokan mendominasi pemeriksaan pasien. Setiap hari, sekitar 50 hingga 70 orang datang dengan keluhan tersebut.
Paparan polusi jangka panjang menjadi perhatian tenaga medis karena berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan, jantung, dan stroke. Ibu hamil serta anak-anak masuk kelompok paling rentan.
Relawan pemadam kebakaran Anas Dwi Wahyu Kurniawan menyebut kondisi karhutla tahun ini sangat serius, bahkan skalanya menyerupai kebakaran 2016. Upaya pemadaman menghadapi keterbatasan alat pelindung diri, minimnya perlengkapan darurat, hingga sulitnya memperoleh sumber air karena lahan gambut mengering.
Pemerintah pusat mengerahkan puluhan helikopter, pesawat, pompa air, serta ribuan personel untuk menangani kebakaran. Kementerian Kesehatan mendistribusikan lebih dari 260.000 masker ke wilayah terdampak.
Kebakaran dilaporkan meluas melalui sejumlah titik panas di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, hingga Papua. Kondisi itu memperlihatkan karhutla bukan sekadar urusan memadamkan api ketika kebakaran sudah terjadi.
Pencegahan, pengawasan kawasan rawan, perlindungan lahan gambut, kesiapan peralatan, dan jaminan kesehatan masyarakat menjadi bagian yang tidak boleh dikesampingkan. Ketika hutan terbakar, yang kehilangan bukan hanya pepohonan — ada rumah yang terancam dan sekolah yang terpaksa berhenti beraktivitas.