KALIMANTAN BARAT — Kabut asap karhutla membuat jarak pandang menyusut dan udara terasa pekat, tapi risikonya jauh lebih serius bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita. Bidan memegang peran penting melindungi kelompok rentan ini, mulai dari edukasi masker hingga pemantauan tumbuh kembang anak.
Bd. Rahmisyah, SST., M.Kes, menulis bahwa setiap musim kemarau panjang sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan berubah rupa. Matahari tampak seperti cakram oranye pucat, dan udara terasa pekat.
Bagi kebanyakan orang, kabut asap hanya berarti mata perih dan batuk. Namun bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita, asap kebakaran hutan dan lahan menyimpan ancaman yang lebih dalam dan sering tidak disadari.
Asap karhutla bukan sekadar masalah lingkungan atau transportasi. Ia adalah masalah kesehatan ibu dan anak, dan karena itu juga masalah kebidanan.
Asap dari pembakaran hutan dan lahan, terutama lahan gambut, adalah campuran kompleks berbagai zat. Di dalamnya ada partikulat halus PM2.5 dan PM10, karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, ozon permukaan, serta senyawa organik volatil.
Partikel PM2.5 berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang mungil membuatnya mampu menembus jauh ke dalam paru-paru hingga alveolus, bahkan masuk ke aliran darah.
Karbon monoksida sendiri tak berbau dan mengikat hemoglobin lebih kuat daripada oksigen. Kebakaran lahan gambut sangat berbahaya karena membara lama di bawah permukaan dan menghasilkan asap pekat dalam jumlah besar.
Asap ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan di sekitar titik api.
Kehamilan mengubah tubuh perempuan secara fisiologis, dan perubahan itu membuatnya lebih rentan terhadap polusi udara. Ibu hamil bernapas lebih dalam dan lebih sering, sehingga volume udara tercemar yang terhirup bertambah.
Diafragma juga terdorong ke atas oleh rahim yang membesar, sehingga kapasitas cadangan paru berkurang. Respons imun ibu hamil berubah demi menjaga janin, sehingga kerentanan terhadap infeksi saluran napas dapat meningkat.
Pada janin, bayi, dan balita, organ yang masih berkembang jadi lebih mudah terganggu. Paru-paru dan otak janin serta anak kecil masih dalam tahap pembentukan dan pematangan.
Anak bernapas lebih sering per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa. Artinya, mereka menghirup lebih banyak polutan relatif terhadap ukuran tubuhnya.
Saluran napas anak juga lebih sempit, sehingga peradangan ringan saja dapat menyebabkan hambatan napas yang signifikan. Anak tidak bisa memutuskan sendiri untuk menghindari paparan asap.
Berbagai penelitian tentang polusi udara dan kehamilan mengaitkan paparan partikulat dengan sejumlah risiko. Salah satunya berat badan lahir rendah (BBLR) akibat penurunan pertumbuhan janin.
Kelahiran prematur juga dikaitkan dengan peradangan sistemik dan stres oksidatif akibat polutan yang diduga memicu proses persalinan lebih awal. Gangguan pertumbuhan janin bisa terjadi karena penurunan pasokan oksigen dan gangguan fungsi plasenta.
Beberapa studi menunjukkan hubungan antara polusi udara dan peningkatan risiko preeklamsia. Keluhan pernapasan ibu seperti batuk, sesak, dan eksaserbasi asma dapat memengaruhi kenyamanan, tidur, dan asupan nutrisi.
Pada masa nifas, ibu yang kurang istirahat, kurang gizi, dan terpapar asap lebih rentan mengalami infeksi saluran napas dan kelelahan. Kondisi ini memengaruhi pemulihan dan produksi ASI.
Untuk bayi dan balita, ISPA adalah dampak paling umum dan paling mudah dikenali: batuk, pilek, sesak, hingga pneumonia. Infeksi berulang menguras energi dan nafsu makan anak, sehingga berkontribusi pada gangguan tumbuh kembang.
Bidan adalah tenaga kesehatan yang paling dekat dengan perempuan di setiap fase kehidupannya. Mulai dari remaja, calon pengantin, kehamilan, persalinan, nifas, hingga tumbuh kembang bayi dan balita.
Posisi strategis ini membuat bidan bisa menjadi garda terdepan dalam melindungi kelompok rentan dari dampak asap karhutla. Edukasi soal penggunaan masker yang tepat, pemantauan kualitas udara, dan tanda bahaya pada ibu serta anak menjadi bagian dari tugas tersebut.
Segera bawa ibu hamil atau anak ke fasilitas kesehatan jika muncul sesak napas berat, batuk berkepanjangan, demam tinggi, atau penurunan kesadaran. Pada bayi, waspadai napas cepat, tarikan dinding dada, dan penurunan nafsu makan.
Ibu hamil yang mengalami pusing berat, nyeri dada, atau gerakan janin berkurang juga perlu segera diperiksa. Jangan menunggu kondisi memburuk saat kualitas udara sedang tidak sehat.
Melindungi ibu dan anak dari asap karhutla butuh kerja bersama. Bidan, keluarga, dan lingkungan sekitar punya peran masing-masing untuk memastikan kelompok rentan tetap aman di musim kemarau panjang.