PONTIANAK — Tariyah, S.Pd.I., M.H., Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kalimantan Barat, menyusun kumpulan pantun sebagai bentuk peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026. Pantun bernomor 1 sampai 32 itu memadukan sampiran bertema alam dan kehidupan sehari-hari dengan pesan tentang persatuan, kepemimpinan pemuda, dan kontribusi bagi pembangunan bangsa.
Rangkaian pantun dibuka dengan bait tentang semangat memperingati Sumpah Pemuda sebagai momen bersejarah yang mempersatukan bangsa. Tema kemudian mengalir ke soal daya saing pemuda, pelestarian adat budaya, hingga pengakuan atas tiga ikrar: tumpah darah, bangsa, dan bahasa persatuan Indonesia.
Beberapa bait memakai latar khas Nusantara, seperti tenun dan batik bermotif Sidomukti, kapal pinisi yang tambat di dermaga, hingga kulminasi Kota Khatulistiwa. Lewat sampiran itu, Tariyah menyisipkan pesan bahwa pemuda Indonesia dinilai istimewa karena gigih, berempati, dan tak kenal menyerah.
Pantun nomor 14 menegaskan sikap yang diharapkan dari generasi muda: berpikir lokal, bertindak global, dengan kreativitas yang tak pernah padam. Sementara pantun nomor 15 mendorong pemuda membangun sinergi dan kolaborasi agar inovasi generasi muda terus relevan dengan kebutuhan zaman.
Sejumlah bait menyoroti pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan. Pantun nomor 29 mengingatkan agar pemuda menghargai perbedaan, sedangkan pantun nomor 30 menegaskan bahwa berbeda pilihan politik tidak menjadi masalah selama rasa persatuan tetap dijaga.
Nada serupa muncul di pantun nomor 13, yang menyebut semangat persatuan tak boleh turun dan nilai serta maknanya tak lekang oleh zaman. Adat dan budaya juga diminta terus dijaga agar tidak punah, sebagaimana tertulis pada pantun nomor 5.
Beberapa bait mengaitkan peringatan Sumpah Pemuda dengan perjalanan sejarah bangsa. Pantun nomor 18 mengutip ucapan Sukarno, "Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan aku guncang dunia", sebagai pengingat besarnya potensi generasi muda.
Pantun nomor 31 menyebut perjuangan pahlawan dengan bambu runcing, lalu menarik garis ke tantangan hari ini: pemuda berjuang agar Indonesia tangguh bersaing. Pantun nomor 27 bahkan mengingatkan agar seruan "Merdeka atau Mati" tidak diteriakkan sebelum seseorang memberi karya nyata pada negeri.
Pesan yang paling sering berulang adalah ajakan mengisi kemerdekaan lewat karya dan teladan. Pantun nomor 21 menyebut pemuda perlu bersinergi dan bersatu padu agar produktif berkarya, sementara pantun nomor 26 menekankan perjuangan melalui cipta dan karya yang bermanfaat.
Pada bagian akhir, Tariyah mengangkat tema Indonesia Emas dan Nusantara Baru. Pantun nomor 23 dan 24 menyambungkan semangat pemuda dengan cita-cita Indonesia maju dan bermartabat, ditopang etika, budaya, serta kesehatan generasi.
Kumpulan pantun ini dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026. Bagi Tariyah, peringatan itu bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa persatuan dan karya pemuda menentukan arah kemajuan bangsa.