Festival Tari se-Kalbar Digelar di Alun-Alun Kapuas Pontianak, Firdaus Sebut Seni Perekat Lintas Etnis

Penulis: Pandu Wibisono  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 08:32:01 WIB
Kelompok seni dari berbagai daerah menampilkan tari tradisional pada Festival Tari se-Kalimantan Barat di Alun-Alun Kapuas, Pontianak.

PONTIANAK — Festival Tari se-Kalimantan Barat mempertemukan sejumlah kelompok seni dari berbagai daerah di provinsi itu di ruang terbuka Alun-Alun Kapuas. Penyelenggaraan kegiatan ini melibatkan Moderasi Lintas Etnis Kalimantan Barat bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat.

Firdaus, yang juga Sekretaris Jenderal Koordinator Moderasi Lintas Etnis Kalimantan Barat, membuka langsung festival tersebut. Menurutnya, kegiatan kebudayaan menjadi salah satu sarana membangun kehidupan masyarakat yang inklusif di tengah keberagaman etnis provinsi ini.

Mengapa Festival Tari Dipilih sebagai Jembatan Antaretnis

Seni tari tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan. Dalam konteks Kalimantan Barat, tari mencerminkan identitas, sejarah, filosofi, dan nilai-nilai luhur masyarakat pendukungnya.

Karena itu, perbedaan ekspresi budaya dipandang sebagai kekayaan bersama yang bisa mempererat hubungan sosial, bukan sekat pemisah. Festival memberi kesempatan warga saling mengenal tradisi kelompok etnis lain secara langsung.

Interaksi semacam ini dinilai membangun kepercayaan, memperluas persahabatan, dan memperkuat solidaritas sosial antarwarga. Nilai toleransi tidak disampaikan lewat slogan, tetapi melalui pengalaman menyaksikan pertunjukan bersama.

Nilai Edukasi bagi Generasi Muda

Pengenalan berbagai tradisi dan kesenian daerah menyasar pula generasi muda. Anak-anak dan remaja yang menyaksikan festival mendapat gambaran bahwa setiap kelompok etnis memiliki warisan budaya yang patut dihargai dan dilestarikan.

Moderasi Lintas Etnis Kalimantan Barat menempatkan kegiatan kebudayaan sebagai jalan mewujudkan sikap saling menghormati dan keterbukaan terhadap perbedaan. Komitmen menjaga keharmonisan dijalankan tanpa menghilangkan identitas budaya masing-masing kelompok.

Kolaborasi Pelestarian Budaya yang Melibatkan Banyak Pihak

Kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat menunjukkan pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan lintas pihak. Pemerintah, komunitas seni, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga generasi muda masuk dalam ekosistem itu.

Kolaborasi diperlukan agar seni tradisional tetap hidup, berkembang, dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Pemilihan Alun-Alun Kapuas sebagai lokasi memperluas fungsi ruang publik sebagai tempat perjumpaan warga melalui beragam ekspresi seni.

Keberagaman etnis di Kalimantan Barat merupakan realitas sosial yang perlu dirawat lewat komunikasi, interaksi, dan kerja sama antarkelompok. Festival tari diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian upaya berkelanjutan memperluas dialog lintas etnis.

Merawat kebinekaan, dalam kerangka kegiatan ini, bukan berarti menghilangkan perbedaan. Persatuan dinilai tumbuh ketika setiap kelompok mampu mempertahankan identitas budayanya sekaligus menghormati identitas kelompok lain.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: suarakalbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top